BALIKPAPAN — Keyakinan publik terhadap masa depan Program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) terus merosot. Survei terbaru SMRC yang dirilis Selasa (28/7/2026) mencatat hanya satu dari empat warga yang masih optimistis program besutan pemerintah ini bakal maju.
Direktur Eksekutif SMRC, Deni Irvani, memaparkan bahwa dari 749 responden yang diwawancarai pada 5–19 Juli 2026, mayoritas justru menyimpan keraguan. "Secara keseluruhan sekitar 61,1 persen publik merasa kurang atau tidak yakin Program KDMP akan berkembang atau maju, sementara yang merasa sangat atau cukup yakin lebih rendah, hanya 25 persen," katanya melalui kanal YouTube SMRC TV.
Rincian data menunjukkan bahwa dari kelompok yang pesimistis, 38,9 persen responden mengaku tidak yakin, dan 22,2 persen lainnya menyatakan tidak yakin sama sekali. Hanya 2,4 persen yang sangat yakin program ini berhasil, serta 22,6 persen cukup yakin. Sisanya, 13,9 persen, tidak memberikan jawaban.
Yang menarik, tren ini bukanlah fenomena mendadak. SMRC mencatat peningkatan signifikan dalam tiga periode pengukuran. Pada November 2025, angka ketidakyakinan publik masih 43,5 persen. Angka itu naik menjadi 48,4 persen pada Februari–Maret 2026, dan melonjak drastis menjadi 61,1 persen pada Juli 2026.
Berbanding terbalik dengan pesimisme, tingkat keyakinan publik terhadap program Koperasi Merah Putih justru ambrol. Persentasenya turun dari 43,3 persen pada November 2025 menjadi 41,7 persen pada awal 2026, lalu merosot ke posisi 25 persen pada pertengahan tahun ini.
Menurut Deni, meningkatnya sikap skeptis terhadap program andalan ini berkorelasi dengan menurunnya tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja Presiden Prabowo Subianto. Meski demikian, tingkat pengenalan program tergolong tinggi—76,9 persen responden mengaku mengetahui KDMP, sementara 23,1 persen lainnya belum mendengarnya.
Survei nasional ini menggunakan metode acak dengan margin of error sekitar ±3,7 persen. Perbedaan hasil minimal 7,4 persen dinilai signifikan secara statistik. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara telepon terhadap 83,8 persen responden dan wawancara tatap muka terhadap 16,2 persen responden.