SAMARINDA — Ratusan guru SMA dan SMK di Kalimantan Timur kini tak hanya dituntut menguasai materi ajar, tetapi juga mampu menyulap pelajaran menjadi permainan digital. Disdikbud Kaltim melalui UPTD Tekkom Infodik menggelar bimbingan teknis pembuatan game edukasi yang diikuti 110 tenaga pendidik di Samarinda, Kamis.
Pelatihan ini memanfaatkan platform desain grafis kolaborasi berbasis kecerdasan buatan. Para guru diajak keluar dari zona nyaman metode ceramah dan beralih ke media visual yang lebih relevan dengan keseharian siswa yang tumbuh di era digital.
Kepala UPTD Tekkom Infodik Disdikbud Kaltim Sulaiman menegaskan, peserta tidak boleh pulang dengan tangan kosong. "Setiap guru yang menjadi peserta kami minta mengikuti kegiatan secara serius hingga menghasilkan minimal satu produk media ajar mandiri yang siap diterapkan," ujarnya.
Materi teknis pelatihan diisi oleh Duta Canva Indonesia Khairunisa dari SMKN 3 Balikpapan. Kehadirannya diharapkan bisa memberikan perspektif praktis tentang bagaimana merancang gim edukasi yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga efektif menyampaikan materi.
Kepala Seksi Pengembangan Teknologi Pendidikan UPTD Tekkom Infodik Disdikbud Kaltim Diana Kendartin menjelaskan, inovasi ini dirancang untuk mempermudah pemahaman siswa terhadap materi pelajaran yang bersifat abstrak. Menurutnya, pembuatan gim interaktif justru menghemat waktu guru dalam menyiapkan bahan ajar dibandingkan metode konvensional.
"Tujuan utama kami adalah mewujudkan pembelajaran yang bermakna bagi siswa, bukan sekadar mengejar tampilan visual yang bagus," kata Sulaiman menambahkan.
Program ini juga menjadi bagian dari strategi mendukung implementasi Kurikulum Merdeka yang menuntut fleksibilitas dan kreativitas pengajar.
Tidak berhenti di pelatihan, Disdikbud Kaltim menerapkan sistem pengimbasan. Para guru yang sudah mengikuti bimbingan teknis diminta membagikan ilmunya secara berantai kepada rekan sejawat di sekolah masing-masing.
Diana Kendartin menambahkan, dukungan teknologi ini diharapkan mampu memperluas kesetaraan mutu pembelajaran di seluruh SMA, SMK, hingga SLB se-Kalimantan Timur. Dengan kata lain, guru kreatif tidak boleh jadi barang langka yang hanya ada di kota-kota besar.