KALIMANTAN TIMUR — Gangguan ini bukan sekadar perlambatan. Sejumlah pelanggan melaporkan situs web mereka benar-benar tidak bisa dibuka, sementara beberapa layanan lain seperti EasyWP dan klien email mengalami penundaan proses yang signifikan. Bahkan, alat bantuan pelanggan (customer support) ikut terdampak, membuat pengguna kesulitan melacak status pemulihan.
Pusat data PhoenixNAP mengonfirmasi insiden ini bermula dari kerusakan akibat badai besar yang melanda kota Phoenix pada malam sebelumnya. Kerusakan tersebut memicu "elevated white space temperatures" atau suhu ruang server yang meningkat drastis.
Akibatnya, sistem keamanan pusat data memicu protokol darurat untuk melindungi perangkat keras, yang berujung pada pemadaman layanan secara luas. Dalam unggahan resminya, Namecheap menyebut tim teknis mereka saat ini tengah fokus menurunkan suhu ruangan secara bertahap.
Dalam pembaruan terbaru di akun X (sebelumnya Twitter), Klein menyampaikan bahwa suhu di dalam pusat data terus menunjukkan tren penurunan. "Temperatures continue to fall. The cooling process is taking effect and temperatures are consistently trending in the right direction," tulisnya.
Berdasarkan progres tersebut, tim teknis telah mulai melakukan proses inisialisasi ulang untuk membawa layanan pelanggan kembali online. Target awal pemulihan ditetapkan pada pukul 15.00–15.30 ET (sekitar pukul 02.00 WIB dini hari Jumat).
Bagi pemilik website yang menggunakan Namecheap, gangguan ini berarti hilangnya pendapatan dan potensi penurunan reputasi di mata pengunjung. Situs yang tidak dapat diakses dalam waktu lama biasanya akan kehilangan peringkat di mesin pencari.
Jika situs Anda masih bermasalah hingga sore hari ini, disarankan untuk memantau akun media sosial resmi Namecheap. Hindari melakukan perubahan konfigurasi DNS secara manual selama masa pemulihan, karena berpotensi menimbulkan konflik saat server kembali aktif.
Insiden ini menjadi pengingat pentingnya strategi cadangan (backup) dan pemulihan bencana (disaster recovery). Pengguna di Indonesia yang mengandalkan server di luar negeri sebaiknya mempertimbangkan layanan CDN (Content Delivery Network) atau DNS sekunder untuk meminimalkan risiko downtime.
Memiliki rencana darurat, seperti halaman statis sederhana di layanan cloud lain, bisa menjadi penyelamat saat penyedia utama mengalami gangguan tak terduga seperti ini.