KALIMANTAN TIMUR — Kementerian Perdagangan (Kemendag) memfasilitasi penandatanganan kontrak pembelian (Sales Purchase Agreement/SPA) untuk pengiriman 10 ton cengkeh ke Arab Saudi. Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag, Fajarini Puntodewi, menyatakan transaksi ini menjadi bukti produk Indonesia mampu bersaing di pasar internasional.
"Penandatanganan kontrak pembelian cengkeh ke Arab Saudi menunjukkan Indonesia memiliki produk berkualitas internasional," ujar Fajarini dalam keterangan resmi di Jakarta, Jumat (19/6). Ia berharap kesepakatan ini membuka akses lebih luas bagi produk nasional di kawasan Teluk.
Kepala ITPC Jeddah, Bagas Haryotejo, mengungkapkan bahwa konflik regional di kawasan Teluk menjadi tantangan terbesar bagi eksportir saat ini. Dampaknya langsung terasa pada biaya logistik yang melonjak signifikan.
"Konflik regional yang saat ini menjadi tantangan di kawasan Teluk turut berdampak pada kenaikan biaya pengapalan ke Arab Saudi hingga tiga kali lipat," kata Bagas. Meski demikian, pihaknya berkomitmen menjaga kelancaran perdagangan bilateral, termasuk bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Hubungan dagang kedua negara menunjukkan tren positif. Pada periode Januari-Juni 2026, total perdagangan nonmigas Indonesia dengan Arab Saudi tercatat mencapai 1,69 miliar dolar AS, dengan nilai ekspor Indonesia sebesar 1,02 miliar dolar AS dan impor 665,10 juta dolar AS. Alhasil, Indonesia membukukan surplus 357,3 juta dolar AS.
Angka tersebut melanjutkan kinerja impresif tahun sebelumnya. Sepanjang 2025, total perdagangan nonmigas kedua negara mencapai 3,94 miliar dolar AS. Indonesia mencatatkan ekspor 2,88 miliar dolar AS dan impor 1,06 miliar dolar AS, menghasilkan surplus sebesar 1,82 miliar dolar AS.
Komposisi perdagangan didominasi produk bernilai tambah. Berikut produk unggulan ekspor Indonesia ke Arab Saudi:
Sementara itu, Indonesia mengimpor garam, belerang, kapur, plastik, bahan kimia organik, serta buah-buahan dari Arab Saudi.
Kesepakatan ini menjadi sinyal positif di tengah gejolak ekonomi global. Keberhasilan ekspor cengkeh diharapkan mendorong eksportir lain, terutama UMKM, untuk lebih agresif menembus pasar Timur Tengah.
"Kami berharap eksportir yang telah mendapatkan pasar di Arab Saudi terus mempertahankan kualitasnya agar kepercayaan terhadap Indonesia terus terjaga dan dapat membuka peluang yang lebih besar," tegas Bagas. Ia menambahkan, menjaga reputasi produk menjadi kunci untuk memperluas pangsa pasar di tengah persaingan ketat dan tantangan logistik yang ada.