BMKG Stasiun Balikpapan mencatat 11.869 titik panas tersebar di 10 kabupaten/kota Kalimantan Timur selama 1–21 Agustus 2026, atau rata-rata 565 titik per hari. Angka ini lebih tinggi dibanding periode yang sama pada 2015 yang mencapai 9.793 titik, dan diprediksi terus meningkat karena puncak musim kemarau baru terjadi pada September hingga Oktober.
BALIKPAPAN — Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Timur tahun ini lebih serius dibanding musim kemarau sebelumnya. Data BMKG Stasiun Kelas I Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan Balikpapan menunjukkan fenomena El Nino yang terjadi saat ini lebih kering ketimbang 2015, sehingga potensi munculnya titik api baru masih terbuka lebar.
Ketua Tim Data dan Informasi BMKG Stasiun Balikpapan, Huda Abshor Mukhsinin, mengatakan langkah mitigasi tidak bisa berhenti pada pemadaman semata. Edukasi pencegahan harus berjalan paralel dengan kesiapan aparatur di lapangan.
Data riil BMKG pada Jumat (21/8) pukul 01.00–24.00 Wita menunjukkan 980 titik panas terdeteksi dalam sehari. Kabupaten Berau menyumbang angka tertinggi dengan 439 titik, disusul Kutai Timur 178 titik dan Kutai Kartanegara 166 titik.
Kabupaten Paser mencatat 113 titik, Kutai Barat 69 titik, serta Penajam Paser Utara dan Bontang masing-masing enam titik. Mahakam Ulu dua titik, sementara Balikpapan hanya satu titik panas pada hari yang sama.
Huda menjelaskan masa kering di Kaltim belum berakhir. Prakiraan BMKG menunjukkan puncak panas justru terjadi pada September hingga Oktober, yang berarti jumlah titik panas berpotensi naik dari capaian saat ini.
"Ajakan ini harus terus menerus dilakukan hingga beberapa bulan ke depan, karena puncak El Nino lebih kering di Kaltim diperkirakan bukan bulan ini saja," ujarnya di Balikpapan, Sabtu (22/8).
BMKG menyoroti praktik membakar lahan pertanian dan perkebunan sebagai pemicu utama meluasnya karhutla. Tiupan angin kencang disebut mampu membawa api menjalar ke lahan lain yang tidak menjadi sasaran pembakaran.
"Untuk edukasi dan pendekatan, hal mendesak saat ini adalah ajakan tidak melakukan pembakaran saat membuka lahan baik pertanian maupun perkebunan, karena pembakaran berpotensi membakar lahan lain saat terjadi angin kencang," kata Huda.
Aktivitas kecil seperti membuang puntung rokok di area hutan atau lahan kering juga disorot. Daun kering yang mudah terbakar disebut cukup untuk memicu kebakaran besar jika tidak diantisipasi sejak dini.
BMKG menegaskan penanganan karhutla tidak bisa dilakukan sendiri. Peran pemerintah daerah, aparat keamanan, perusahaan, hingga masyarakat disebut menentukan dalam menekan jumlah titik panas selama masa kritis dua bulan ke depan.
Langkah pencegahan yang melibatkan unsur masyarakat dan pihak terkait dinilai lebih efektif dibandingkan hanya mengandalkan pemadaman saat api sudah membesar. Kesadaran warga untuk tidak membakar lahan menjadi garis pertahanan pertama yang harus diperkuat.