BALIKPAPAN — Luas lahan terbakar akibat karhutla di Kalimantan Timur terus bertambah di tengah musim kemarau. Data Pusdalops BPBD Kaltim mencatat 32 kejadian kebakaran terjadi di Balikpapan pada 19 Agustus, disusul 16 kejadian baru yang tersebar di sejumlah kabupaten dan kota sehari setelahnya.
Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Kaltim Buyung Dodi Gunawan mengatakan, area yang terbakar didominasi lahan pertanian dan lahan milik masyarakat. Faktor kelalaian manusia masih menjadi pemicu utama di tengah kondisi kekeringan yang belum mereda.
“Untuk Kaltim secara keseluruhan, luas lahan terbakar yang tercatat saat ini mencapai sekitar 752 hektare. Kita tetap waspada karena kondisi yang sebelumnya baik sudah menjadi sedang,” kata Buyung.
BPBD Kaltim memantau pergerakan asap dari sejumlah titik kebakaran. Berau dan Paser menjadi wilayah yang mendapat perhatian khusus karena aktivitas kebakaran mulai menimbulkan kabut asap.
Berdasarkan pemantauan, sebagian besar asap masih bersifat lokal. Namun, terdapat tambahan asap dari wilayah Kalimantan Selatan yang bergerak menuju Paser, berpotensi memperburuk kualitas udara di daerah tersebut.
Untuk mengantisipasi dampak kesehatan, BPBD Kaltim berkoordinasi dengan dinas kesehatan di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. Langkah ini dilakukan untuk menyiapkan penanganan medis bagi warga yang terdampak kabut asap.
Penanganan karhutla diperkuat melalui koordinasi pemerintah daerah bersama TNI dan Polri. Operasi modifikasi cuaca menjadi salah satu langkah utama yang disiapkan untuk memicu hujan buatan di wilayah rawan kebakaran.
Wakil Panglima TNI Jenderal TNI Tandyo Budi Revita bersama Komandan Korps Brimob Polri Komjen Pol. Ramdani Hidayat turut meninjau langsung penanganan karhutla di Kalimantan Timur. Opsi pemadaman menggunakan water bombing juga disiapkan apabila kondisi di lapangan membutuhkan penanganan lebih lanjut.
Danlanud Dhomber Kolonel PNB I Gusti Ngurah Sorga Laksana mengatakan, TNI Angkatan Udara mendapat tugas mendukung pelaksanaan OMC sesuai wilayah kerja yang telah ditentukan. Pihaknya bekerja sama dengan BMKG pusat dan Otorita IKN untuk memantau pertumbuhan awan secara detail.
“Kita diminta untuk fokus sesuai dengan wilayah kerja yang diberikan. Kita bekerja sama dengan BMKG pusat dan Otorita IKN untuk memantau pertumbuhan awan secara detail agar pelaksanaan operasi modifikasi cuaca dapat berjalan efektif,” ujarnya.
Dengan kondisi kekeringan yang masih berlangsung, respons cepat diperlukan untuk mencegah titik api berkembang dan meluas. Penanganan dilakukan melalui berbagai langkah, mulai dari pencegahan dan edukasi masyarakat, pemadaman darat, hingga operasi modifikasi cuaca.
I Gusti Ngurah menegaskan, penanganan karhutla membutuhkan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan. Pemerintah daerah, BPBD, TNI-Polri, BMKG, hingga masyarakat diminta terlibat dalam upaya pencegahan dan penanganan kebakaran.
Masyarakat diimbau tidak membuka lahan dengan cara membakar, terutama di area pertanian dan lahan kosong yang rawan memicu kebakaran meluas. Pelaporan dini ke aparat setempat menjadi langkah awal yang dinilai efektif untuk mempersingkat waktu respons pemadaman.