Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) melalui Dinas Perikanan merevitalisasi tambak seluas 135,9 hektare di Muara Bengalon untuk mengembalikan produktivitas lahan yang sempat terabaikan. Langkah ini ditargetkan mendongkrak produksi udang dan ikan campuran hingga 175 ton per tahun, sekaligus menerapkan konsep budi daya ramah lingkungan.
SANGATTA — Dinas Perikanan Kabupaten Kutai Timur memulai program pemulihan tambak pada 2025 dengan merevitalisasi lahan seluas 115,9 hektare di Muara Bengalon. Tahun ini, pemerintah melanjutkan dengan meremajakan 20 hektare tambak tambahan, sehingga total lahan yang dipulihkan mencapai 135,9 hektare.
Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Kutim Yuliansyah mengatakan, langkah ini diambil karena banyak tambak di Bengalon yang tidak berproduksi optimal, bahkan sebagian dibiarkan karena hasilnya sangat rendah.
Dengan luas lahan yang telah dipulihkan, estimasi produksi ikan dan udang tambak di Bengalon kini berkisar antara 140 hingga 175 ton per tahun. Angka ini dihitung dari rata-rata produktivitas tambak setempat yang mencapai 1,2 hingga 1,5 ton per hektare per tahun.
Produksi tersebut berpotensi terus meningkat seiring waktu pemulihan lahan dan pendampingan teknis budidaya yang dilakukan pihaknya bersama instansi terkait.
Revitalisasi tidak sekadar memperbaiki pematang dan saluran air. Dinas Perikanan Kutim juga menerapkan konsep budi daya perikanan ramah lingkungan atau green aquaculture, yakni menanam pohon bakau di area tambak.
Keberadaan bakau berfungsi ganda: menjadi rumah jasad renik sekaligus penguat ekosistem pesisir. Akar-akar bakau menarik berbagai biota laut yang menjadi pakan alami ikan, udang, hingga kepiting, sehingga produktivitas tambak ikut meningkat.
Program revitalisasi ini menjadi pintu masuk bagi dukungan menyeluruh bagi pembudidaya. Pendampingan mencakup penyediaan benih unggul berkualitas, pelatihan pembuatan pakan mandiri, hingga bantuan mesin pakan.
"Demikian pula Balai Benih Ikan di Kecamatan Kaubun ikut dibenahi. Semua ini bukan sekadar memperbaiki pematang dan saluran air, melainkan mengembalikan harapan agar lahan yang tidur lama itu kembali produktif," ujar Yuliansyah.
Di sektor perikanan tangkap, nelayan mendapat bantuan mesin kapal, alat tangkap yang lebih tepat guna, serta perlengkapan penanganan hasil. Salah satu yang paling dirasakan manfaatnya adalah penyediaan cool box.
Peralatan sederhana ini menjaga kesegaran ikan sejak diangkat dari laut hingga tiba di pasar. Ikan yang tetap segar otomatis bernilai jual lebih tinggi karena mutunya terjaga, sehingga pendapatan nelayan ikut membaik.