KALIMANTAN TIMUR — Sebelum teknologi itu hadir, banyak nelayan yang melaut dengan harapan besar tapi pulang dengan karung kosong. Bahan bakar terbuang, waktu berjam-jam mengambang, dan hasil tangkapan tidak sebanding dengan pengeluaran. Di Cilacap Selatan, Jawa Tengah, kondisi itu terekam dalam data MetaSeaco: dari 6.806 perjalanan melaut yang didokumentasikan, 41% berakhir rugi.
Iwak adalah teknologi berbasis AI dan data satelit yang dikembangkan MetaSeaco, sebuah startup yang lahir dari inkubasi Pertamuda Pertamina. Sistem ini memberikan rekomendasi kepada nelayan mengenai waktu terbaik untuk melaut, target jenis ikan, hingga titik koordinat yang berpotensi menjadi lokasi penangkapan.
"Dari rumah, nelayan sudah bisa mengetahui apakah hari itu sebaiknya melaut atau tidak. Jika melaut, teknologi ini juga memberikan rekomendasi titik koordinat dan waktu terbaik untuk menangkap ikan," ujar CEO MetaSeaco, Catur Prasetyo Nugroho, dalam keterangan yang diterima Senin (31/8).
Akurasinya terbilang menjanjikan. Prediksi untuk ikan tenggiri batang mencapai 91%, bawal putih 85%, dan layur 70%. Dalam salah satu perjalanan, nelayan yang mengikuti koordinat dengan skor prediksi tinggi bisa mengantongi pendapatan sekitar Rp 3 juta dalam sekali melaut.
Keberhasilan di 15 perahu di Cilacap kini mulai direplikasi ke desa-desa binaan Pertamina. Melalui kolaborasi program Desa Energi Berdikari (DEB) dan Pertamuda, teknologi MetaSeaco akan dikembangkan untuk mendukung masyarakat binaan di sekitar wilayah operasi Pertamina.
Rencana ini diumumkan pada Festival Desa Energi Berdikari Pertamina 2026 di Grha Pertamina, Jakarta, Jumat (28/8/2026). Menurut Vice President CSR & SMEPP Management Pertamina, Rudi Ariffianto, semakin banyak teknologi tepat guna yang diterapkan, semakin besar dampak yang bisa dirasakan 269 desa energi berdikari. "Semakin banyak teknologi tepat guna yang bisa diterapkan, tentu akan semakin bagus. Harapannya, dampak dari 269 Desa Energi Berdikari yang kami miliki bisa semakin besar," katanya di festival tersebut.
Bukan hanya nelayan, petani di DEB Juntinyuat, Indramayu, juga akan merasakan manfaat teknologi dari startup Terangin, yang masuk Top 3 Pertamuda 2025 untuk kategori Energy Future. Terangin membawa teknologi penghalau burung berbasis laser otomatis yang diharapkan mengurangi gangguan hama burung di sawah.
CEO Terangin, Muhammad Hanif, mengaku terbantu oleh dukungan Pertamina. "Terima kasih kepada Pertamina dan Pertamuda yang telah memberikan berbagai dukungan, mulai dari pendanaan, mentoring, publikasi, dan banyak hal lainnya. Dukungan tersebut sangat membantu kami untuk terus berkembang dan menjadi lebih mandiri," ujarnya.
Sementara itu, di DEB Nagari Katapiang, Pertamina menggandeng PT Global Vision Tech untuk mengembangkan rantai nilai komoditas kelapa—dari peningkatan kapasitas masyarakat hingga pengolahan produk bernilai tambah.
Rudi menegaskan bahwa kolaborasi ini adalah wujud nyata bahwa inovasi tidak boleh berhenti di atas kertas. "Melalui Festival Desa Energi Berdikari 2026, Pertamina mendorong semakin banyak inovasi karya anak bangsa untuk menemukan ruang implementasinya di tengah masyarakat. Sebab, ketika energi, teknologi, dan inovasi bertemu dengan kebutuhan masyarakat, yang tumbuh bukan hanya produktivitas—tetapi juga kemandirian," jelasnya.
Bagi nelayan Cilacap, teknologi Iwak bukan sekadar alat bantu modern. Ia adalah cara baru untuk membaca laut—dengan data, bukan sekadar naluri.