BERAU — Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Berau mengimbau warga Tanjung Redeb untuk mengurangi aktivitas di luar rumah menyusul memburuknya kualitas udara. Hasil pengukuran di halaman Kantor DLHK Berau menunjukkan konsentrasi partikulat halus berukuran 2,5 mikrometer (PM2,5) berada di angka 131, disusul PM10 sebesar 153 dan Total Suspended Particulate (TSP) mencapai 193.
Angka tersebut diperoleh dari pemantauan UPTD Laboratorium Lingkungan selama 24 jam pada 28-29 Agustus 2026. Kepala DLHK Berau, Zulkifli Azhari, memastikan status udara di Berau masuk kategori tidak sehat dan perlu mendapat perhatian bersama.
"Hasil pemantauan kualitas udara kita menunjukkan status udara di Berau masuk kategori tidak sehat. Kondisi ini perlu menjadi perhatian bersama karena dapat berdampak terhadap kesehatan masyarakat," ujar Zulkifli.
DLHK meminta warga menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan. Selain itu, masyarakat disarankan memperbanyak konsumsi air putih dan membatasi keluar rumah apabila kabut asap semakin pekat.
Kondisi cuaca di Tanjung Redeb saat pengukuran terbilang panas dengan suhu mencapai 35,3 derajat Celsius. Kelembapan udara tercatat 59 persen, memperparah rasa gerah yang dialami warga di tengah pekatnya asap.
Zulkifli mengingatkan masyarakat untuk tidak menganggap kabut asap sebagai fenomena biasa yang rutin terjadi setiap musim kemarau. Sebab, kombinasi suhu tinggi dan konsentrasi partikulat yang tinggi dapat memicu gangguan pernapasan.
"Kami mengimbau masyarakat menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, memperbanyak konsumsi air putih, serta mengurangi aktivitas di luar rumah apabila asap semakin pekat," kata Zulkifli.
DLHK Berau juga menegaskan larangan membakar lahan maupun sampah secara terbuka. Aktivitas pembakaran, meski dalam skala kecil, berpotensi menambah konsentrasi partikulat di udara dan memperburuk kondisi yang sudah terdampak kabut asap.
"Kami berharap masyarakat dapat bersama-sama menjaga lingkungan dan mematuhi larangan membakar lahan," tegasnya.
Zulkifli memastikan pemantauan kualitas udara akan terus dilakukan secara berkala. Data yang terkumpul akan menjadi bahan bagi pemerintah daerah dalam menentukan kebijakan dan langkah mitigasi selanjutnya.
Jika kondisi udara semakin memburuk, pemerintah daerah dapat mengambil langkah penanganan lebih lanjut. Untuk sementara, warga diminta memperhatikan kondisi udara sebelum beraktivitas di luar ruangan serta menjaga asupan cairan tubuh.