KALIMANTAN TIMUR — Peristiwa alam yang terjadi pada 13 Januari 2025 ini berubah menjadi momen langka bagi para peneliti kelautan. Gunung es seluas 510 kilometer persegi—hampir 80 persen luas Jakarta—terlepas dari George VI Ice Shelf dan membuka area yang sebelumnya mustahil dijangkau manusia.
Tim ekspedisi yang berada di kapal riset Falkor (too) langsung memanfaatkan celah waktu tersebut. Mereka menurunkan robot bawah laut bernama ROV SuBastian untuk menjelajah dasar laut yang baru terekspos hingga kedalaman 1.300 meter.
Hasil penjelajahan selama delapan hari mengejutkan seluruh kru ekspedisi. Alih-alih menemukan hamparan lumpur atau batuan kosong, kamera ROV merekam komunitas organisme dalam skala besar. Spons dan karang berukuran raksasa tumbuh membentuk struktur layaknya hutan bawah laut.
Di antara biota tersebut, tim melihat gurita, ikan es, laba-laba laut raksasa, anemon, hingga bintang ular laut yang bergerak aktif. Padahal, kawasan ini tertutup lapisan es setebal 150 meter selama periode yang sangat panjang.
Temuan ini memicu perdebatan ilmiah. Ekosistem laut normalnya bergantung pada fitoplankton yang berfotosintesis di permukaan. Material organik yang tenggelam menjadi sumber makanan bagi organisme di dasar laut.
Namun, aturan itu tidak berlaku di bawah lapisan es Antartika. Cahaya matahari tidak bisa menembus es setebal puluhan hingga ratusan meter. Aliran partikel organik dari permukaan juga terhambat oleh penutup es tersebut.
Hipotesis sementara mengarah pada arus laut yang bergerak di bawah lapisan es. Pergerakan air ini berpotensi membawa oksigen, nutrisi, dan partikel organik dari wilayah perairan lain. Tim peneliti memang menemukan indikasi adanya aliran air serta lelehan gletser di area tersebut, namun mekanisme pastinya masih memerlukan kajian lebih dalam.
Dr. Patricia Esquete dari University of Aveiro, Portugal, yang memimpin ekspedisi ini, mengaku tak menyangka dengan kondisi dasar laut yang ditemukan.
"Kami tidak menyangka akan menemukan ekosistem yang begitu indah dan berkembang pesat. Berdasarkan ukuran hewan-hewan tersebut, komunitas yang kami amati telah berada di sana selama puluhan tahun, mungkin bahkan ratusan tahun," ujarnya seperti dikutip dari ScienceBlog.
Ukuran spons dan karang yang sangat besar menjadi petunjuk utama. Kedua organisme ini dikenal tumbuh sangat lambat di perairan dingin. Para ilmuwan memperkirakan butuh waktu puluhan hingga ratusan tahun untuk mencapai ukuran tersebut, meski usia pastinya belum bisa ditentukan secara langsung.
Upaya mengungkap kehidupan di bawah lapisan es Antartika sebenarnya sudah dimulai sejak 2021. Saat itu, peneliti British Antarctic Survey menemukan tanda-tanda kehidupan dasar laut di bawah Filchner-Ronne Ice Shelf melalui lubang bor yang relatif sempit.
Ekspedisi A-84 menawarkan keunggulan berbeda. ROV SuBastian bisa bergerak bebas melintasi area luas, merekam habitat secara tiga dimensi, mendekati organisme, serta mengambil sampel biologis dan geologis. Para peneliti kini tidak hanya tahu bahwa kehidupan ada di sana, tetapi juga bisa mempelajari struktur komunitasnya.
Beberapa organisme yang terekam diduga merupakan spesies yang belum pernah dideskripsikan secara ilmiah. Konfirmasi atas dugaan tersebut memerlukan pemeriksaan morfologi, analisis DNA, serta perbandingan dengan spesies yang sudah terdokumentasi.
Setelah lapisan es pergi, kondisi kawasan ini perlahan berubah. Cahaya matahari mulai menembus permukaan laut dan material organik dari atas akan lebih mudah masuk ke ekosistem dasar. Pergeseran ini menjadikan area bekas A-84 sebagai laboratorium alam untuk mengamati bagaimana ekosistem laut merespons perubahan lingkungan yang drastis.
Bagi para ilmuwan, peristiwa pecahnya gunung es yang kerap dipandang sebagai dinamika alam biasa kini memiliki dimensi baru sebagai gerbang penemuan ekosistem tersembunyi di salah satu wilayah paling ekstrem di Bumi.