Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur bersama Centre for Orangutan Protection (COP) mengevakuasi seekor orangutan jantan remaja yang berkeliaran di area perkebunan Kabupaten Kutai Timur. Satwa dilindungi berusia sekitar 6 hingga 12 tahun itu dilaporkan sempat mengejar pekerja sebelum akhirnya ditranslokasi ke habitat alaminya yang lebih aman.
SAMARINDA — Upaya mitigasi konflik antara satwa liar dan manusia kembali dilakukan di Kalimantan Timur. BKSDA Kaltim berkolaborasi dengan COP berhasil mengamankan satu individu orangutan jantan yang memasuki kawasan perkebunan di Kabupaten Kutai Timur, pekan ini.
Kepala BKSDA Kaltim, M Ari Wibawanto, menyatakan tindakan penyelamatan diambil setelah menerima laporan kemunculan satwa yang dilindungi tersebut. Sebelum dievakuasi, primata itu dikabarkan sempat mengejar pekerja di lokasi perkebunan.
Kehadiran orangutan di area yang padat aktivitas manusia menimbulkan potensi konflik yang tinggi. Jika dibiarkan menetap, risiko keselamatan baik bagi satwa maupun pekerja perkebunan dinilai besar.
"Setelah melakukan penyisiran intensif selama dua hari di titik-titik rawan, tim gabungan akhirnya berhasil mengevakuasi orangutan jantan yang diperkirakan berusia 6 hingga 12 tahun tersebut," ujar Ari Wibawanto.
Keputusan untuk segera melakukan translokasi pun diambil, mengingat lokasi kemunculannya bukanlah habitat alami yang aman bagi kelangsungan hidup satwa tersebut.
Proses translokasi tidak sederhana. Satwa tersebut harus menempuh perjalanan darat menuju Busang, Kutai Timur, sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan dengan menyusuri jalur sungai menuju kawasan Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat.
Setibanya di lokasi pelepasliaran, orangutan yang kemudian diberi nama Syahrul itu langsung menunjukkan insting alaminya. Begitu pintu kandang transportasi dibuka, ia terpantau memanjat dari satu pohon ke pohon lainnya, lalu bergerak menyusuri semak serta rotan hingga perlahan menghilang ke kedalaman hutan.
Penyelamatan ini merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan BKSDA Kaltim bersama COP. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem serta memastikan orangutan mendapatkan kesempatan hidup yang lebih baik dan aman di alam liar.
Keberhasilan evakuasi ini juga menjadi pengingat akan meningkatnya tekanan terhadap habitat orangutan seiring meluasnya area perkebunan di Kalimantan Timur.