DPKH Kaltim Minta Peternak Siapkan Cadangan Pakan dan Air Hadapi Kemarau, Produktivitas Sapi Terancam

Penulis: Hendra Setiawan  •  Rabu, 09 September 2026 | 07:01:01 WIB
Peternak di Kalimantan Timur menyiapkan cadangan pakan dan air untuk mengantisipasi dampak kemarau terhadap produktivitas sapi.

SAMARINDA — Ancaman kemarau berkepanjangan memaksa para peternak di Kalimantan Timur untuk bekerja ekstra. Rumput di lahan penggembalaan diprediksi mengering, kandungan nutrisinya menurun, sementara debit air di sumur dan sungai berpotensi menyusut.

Kepala DPKH Kaltim Arief Murdiyatno menegaskan, dua kebutuhan utama ternak ini saling terkait dan bisa menjadi masalah serius bila tidak diantisipasi. Dampaknya baru terlihat beberapa minggu kemudian, mulai dari bobot badan yang turun hingga produksi susu yang merosot.

Rumput Kering dan Nutrisi Menurun, Bobot Sapi Terancam Turun

Kekeringan mengubah kualitas hijauan yang biasa dimakan ternak. Rumput yang tadinya segar berubah menjadi kering dengan serat tinggi dan nutrisi rendah.

“Kekeringan menyebabkan produksi pakan hijauan segar menurun drastis. Rumput di padang penggembalaan menjadi lebih kering, berserat tinggi dan kandungan nutrisinya rendah,” ujar Arief dalam keterangan resminya.

Jika kebutuhan nutrisi harian tidak terpenuhi, ternak ruminansia akan mengalami penurunan kondisi fisik. Stres dan gangguan kesehatan menjadi risiko lanjutan yang mengintai.

Silase dan Limbah Pertanian Jadi Alternatif Saat Kemarau

DPKH tidak tinggal diam. Peternak didorong menyiapkan stok pakan cadangan sebelum kondisi di lapangan semakin sulit.

Beberapa opsi yang disarankan adalah membuat silase, hay, atau pakan fermentasi. Limbah hasil pertanian juga bisa dimanfaatkan sebagai pakan alternatif, dengan catatan tetap memperhatikan keamanan dan kandungan nutrisinya.

Untuk jangka panjang, penanaman hijauan pakan yang lebih adaptif terhadap kondisi kering dinilai penting. Langkah ini untuk mengurangi ketergantungan pada rumput alam yang mudah mati saat musim kemarau.

Debit Air Menyusut, Tandon Jadi Penyelamat Ternak

Persoalan tidak berhenti di pakan. Sumber air minum ternak juga menjadi titik rawan saat kemarau melanda.

Penurunan debit sumur, sungai, maupun embung dapat menyulitkan peternak memenuhi kebutuhan minum harian ternaknya. Wilayah yang mengalami kekeringan lebih lama diprediksi akan merasakan dampak paling berat.

“Ketersediaan cadangan air menjadi bagian penting dalam menjaga kondisi ternak selama periode kemarau,” kata Arief.

Peternak disarankan membangun sarana penampungan seperti tandon, embung, atau kolam penampungan air sebagai cadangan selama musim kering berlangsung.

Jangan Tunggu Ternak Sakit, Pemantauan Rutin Jadi Kunci

Arief mengingatkan agar peternak tidak menunggu sampai kondisi hewan peliharaannya memburuk. Pemeriksaan fisik ternak, ketersediaan pakan, dan air harus dilakukan secara rutin.

Dengan pemantauan berkala, penurunan kondisi bisa segera diketahui dan ditangani lebih dini. Hal ini mencegah dampak yang lebih jauh terhadap kesehatan dan produktivitas ternak.

“Yang paling penting adalah kesiapan peternak. Dengan melakukan mitigasi sejak awal, kita dapat menjaga kesehatan dan produktivitas ternak meskipun kondisi cuaca semakin tidak menentu,” pungkasnya.

Reporter: Hendra Setiawan
Sumber: inibalikpapan.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top