KALIMANTAN TIMUR — Data Gaikindo yang diolah Dataloka menunjukkan wholesales mobil listrik berbasis baterai menembus 101.715 unit selama delapan bulan pertama 2026. Perlu dicatat, wholesales adalah distribusi kendaraan dari pabrikan atau distributor ke dealer, bukan penjualan langsung ke konsumen.
Dominasi BYD dan Jaecoo membuat peta persaingan BEV nasional terkonsentrasi di dua nama. Keduanya saja menyumbang 56.632 unit atau 55,68 persen dari seluruh distribusi mobil listrik.
Jarak BYD dengan Jaecoo mencapai 9.914 unit. Selisih itu nyaris setara total penjualan Wuling yang berada di posisi keempat dengan 8.905 unit.
Geely melengkapi tiga besar dengan 12.176 unit atau 11,97 persen. Posisi keempat dan kelima ditempati Wuling (8.905 unit) serta Aion (5.034 unit).
Lima merek teratas secara akumulatif membukukan 82.747 unit. Angka tersebut setara 81,35 persen dari total wholesales mobil listrik nasional.
Persaingan paling ketat terjadi di luar lima besar. Morris Garage mencatatkan 3.009 unit, hanya berselisih delapan unit dari Denza yang mengumpulkan 3.001 unit.
VinFast menyusul dengan 2.876 unit, lalu Chery 2.607 unit, dan XPeng 2.291 unit. Sepuluh merek teratas menguasai 94,90 persen penjualan atau 96.531 unit.
Artinya, seluruh merek di luar 10 besar hanya berbagi 5.184 unit atau 5,10 persen. Hyundai menjadi yang tertinggi di luar daftar elite itu dengan 1.253 unit.
Hyundai memimpin kelompok luar 10 besar dengan 1.253 unit, disusul Aletra 546 unit dan iCaur 500 unit. Polytron menjadi merek lokal dengan 456 unit.
Merek Jepang yang selama ini dominan di pasar konvensional masih tertinggal di segmen BEV. Honda mencatatkan 101 unit, Toyota 77 unit, dan Mazda hanya 2 unit.
Data ini khusus kendaraan listrik berbasis baterai. Angkanya tidak menggambarkan total penjualan merek yang juga memasarkan model konvensional, hybrid, maupun plug-in hybrid.