KALIMANTAN TIMUR — Stunting bukan sekadar soal tinggi badan anak kurang dari standar. Kondisi ini muncul akibat kekurangan gizi kronis yang berlangsung lama, dan dampaknya baru terasa saat anak masuk usia sekolah.
Di Kelurahan Tlogorejo, Kabupaten Demak, pendataan Posyandu mencatat sekitar tiga hingga empat bayi mengalami stunting. Angka ini jadi pengingat bahwa pemantauan rutin di posyandu tetap jadi kunci.
Tim KKN Posko 100 UIN Walisongo Semarang mendampingi kader Posyandu, kader PKK, dan bidan desa dalam pelayanan rutin. Fokus utamanya: periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), dihitung sejak masa kehamilan sampai anak berusia dua tahun.
Di periode ini, pertumbuhan otak dan tubuh anak berlangsung paling cepat. Kekurangan gizi yang terjadi di fase tersebut sulit dikejar di kemudian hari.
Karena itu, sasaran pendampingan tidak hanya balita. Ibu hamil, ibu menyusui, orang tua balita, remaja, hingga lansia ikut masuk dalam radar pemantauan.
Kegiatan dimulai dengan registrasi peserta di pos masing-masing. Setelah itu, balita ditimbang berat badannya, diukur tinggi badan, lingkar kepala, dan lingkar lengan atas.
Pengukuran ini bukan formalitas. Data dari tiap kunjungan dipakai untuk melihat apakah berat dan tinggi anak naik sesuai kurva pertumbuhan atau justru melambat.
Jika ada indikasi melambat, kader dan bidan bisa segera memberi rujukan atau edukasi gizi ke orang tua. Semakin cepat terdeteksi, semakin besar peluang anak kembali ke jalur pertumbuhan normal.
Posyandu Remaja di Tlogorejo dihadiri siswi SD Tlogorejo 01. Kesehatan remaja dinilai penting karena pola hidup yang terbentuk di masa ini menentukan kondisi kesehatan saat dewasa nanti.
"Selain memantau kesehatan bayi, ibu hamil, dan lansia, dilirik juga kesehatan remaja karena mereka yang paling riskan terhadap kesehatan, dilihat dari pola hidup yang beda zaman," ujar Ibu Yayuk, selaku bidan.
Edukasi soal gizi seimbang, aktivitas fisik, dan kebiasaan hidup bersih di usia remaja jadi investasi jangka panjang. Remaja putri yang anemia, misalnya, berisiko lebih tinggi melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah di masa depan.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang masih berjalan di Tlogorejo menyasar ibu hamil, lansia, dan remaja. Program ini melengkapi upaya pemenuhan gizi yang selama ini dilakukan lewat posyandu.
Masyarakat dan tenaga kesehatan bekerja sama melakukan pendataan. Termasuk mendata ibu hamil yang terkendala datang langsung ke Puskesmas, agar tetap mendapat pendampingan.
Pencegahan stunting tidak berhenti di meja posyandu. Ada beberapa langkah praktis yang bisa ibu terapkan sehari-hari:
Segera bawa anak ke fasilitas kesehatan jika berat badannya tidak naik dua bulan berturut-turut, tinggi badannya jauh di bawah anak seusia, atau anak sering sakit diare dan infeksi.
Ibu hamil yang mengalami kekurangan energi kronis (KEK) juga perlu pendampingan khusus. Lingkar lengan atas di bawah 23,5 cm jadi salah satu tanda yang perlu ditindaklanjuti.
Kolaborasi di Tlogorejo menunjukkan satu hal: menekan stunting butuh kerja banyak pihak. Mahasiswa KKN, kader posyandu, bidan, PKK, dan orang tua punya peran masing-masing. Yang paling menentukan justru langkah kecil di rumah—menimbang anak tiap bulan, memberi makan bergizi, dan tidak ragu bertanya ke kader saat ada yang ganjil pada tumbuh kembang si kecil.