SAMARINDA — Lagu "Last Chance At Love Again" ditulis Rizky pada 2025, setelah ia menyelesaikan lirik "Unchosen". Cerita sang teman baru muncul setelah lagu pertama itu rampung, dan dari situ ide karya kedua terbentuk.
Rizky menyebut kisah dalam lagu tersebut punya kedekatan dengan pengalaman pribadinya. Temannya curhat soal masalah percintaan yang mirip dengan kisahnya di awal lagu "Unchosen" — tidak terpilih setelah banyak mengorbankan segalanya.
Mendengar cerita itu, Rizky membagikan pengalamannya bangkit dari luka dan kembali percaya kepada orang lain. Sang teman kemudian menemukan pasangan baru hingga menikah.
"Akhirnya aku kasih tahu ke temanku cara aku bisa move on dan kembali percaya kepada setiap orang. Temanku berhasil menikah dengan kekasih barunya, lalu dari kisah ini aku buatkan lagu 'Last Chance At Love Again'," tutur Rizky dalam wawancara dengan Editorialkaltim.com pada Rabu (28/10/2026).
Perjalanan itu menjadi dasar pesan yang ingin disampaikan. Menurut Rizky, melangkah ke depan butuh keberanian agar seseorang tidak terus terjebak dalam kenangan yang menyakitkan.
"Karena memang harus berani untuk melangkah ke depan daripada tersiksa dengan kenangan masa lalu terus-menerus," katanya.
Meski mengajak pendengar bangkit, Rizky memahami setiap orang punya pilihan sendiri dalam menghadapi luka. Ia tidak memaksa mereka yang merasa nyaman dengan kondisi tersebut.
"Jadi, aku mengajak setiap orang untuk bangkit dari luka. Tetapi, aku juga tidak memaksa orang-orang yang memang nyaman dengan lukanya. Setiap orang memiliki pilihan, mau bangkit atau begitu-begitu terus," lanjutnya.
Untuk produksi, Rizky bekerja sama dengan DMW Production dan menggandeng Dendy Aditya sebagai pengarah musik. Dendy juga merupakan guru gitarnya di sekolah musik jazz Farabi Samarinda.
"Untuk produksinya, aku bekerja sama dengan DMW Production dengan pengarah musikku, Bang Dendy Aditya, sekaligus sebagai guru gitarku di sekolah musik jazz, Farabi Samarinda," jelasnya.
Rizky mengerjakan lirik dan aransemen vokal, sementara seluruh aransemen musik ditangani Dendy. "Untuk semua aransemen musik dari pengarah musikku. Aku hanya mengaransemen vokal dan lirik saja," katanya.
Penggarapan lagu ini dipengaruhi kecintaan Rizky pada pop dan R&B sejak kecil, plus pengalamannya belajar di lingkungan musisi jazz Samarinda. Pertemuan berbagai pengaruh itu membantunya menemukan warna musik sendiri.
"Sangat berpengaruh, karena aku bisa mencampurkan genre-genre tersebut supaya ada warna tersendiri dalam laguku. Walaupun masih terbilang hanya sebatas pop saja, tetapi popnya bukan yang seperti biasanya," ujarnya.
Rizky menempuh pendidikan musik bertahun-tahun untuk memperdalam teknik vokal, musikalitas, dan pemahaman seni bermusik. Bakat menurutnya perlu diiringi pengetahuan agar karier bertahan lama.
"Kalau pengalaman aku belajar di Farabi Samarinda, aku jadi lebih mengerti tentang banyak teori musik yang belum aku ketahui, dan itu membantu aku dalam proses kreatif membuat lagu," tuturnya.
Walau rutin ikut sesi jazz di atas panggung, Rizky tetap menempatkan pop dan R&B sebagai akar identitas musikalnya. "Walaupun ketika aku jam session jazz di atas panggung, aku masih belum sepenuhnya jadi musisi jazz. Terlebih lagi karena itu bukan tujuanku," katanya.
Pilihan bahasa menjadi bagian penting dalam penyampaian pesan lagu. Rizky memilih judul dan lirik berbahasa Inggris karena menyukai bahasa tersebut dan telah mempelajarinya sejak sekolah.
"Selain karena aku suka bahasa Inggris dan waktu sekolah memang sering belajar bahasa Inggris, sayang kalau tidak aku gunakan. Terlebih lagi, aku tidak mau yang mengerti pesanku hanya orang Indonesia saja," ujarnya.
Ia berharap lagu itu bisa dipahami pendengar dari berbagai negara. Bahasa Inggris dinilainya sebagai cara membuka kemungkinan berkomunikasi dengan khalayak lebih luas melalui musik.
"Aku mau hampir semua orang bisa mengerti bahasaku. Makanya aku memilih bahasa Inggris karena bahasa internasional, jadi bisa saling berkomunikasi antarnegara," lanjutnya.