KALIMANTAN TIMUR — Tesla dan Samsung menyampaikan keberatan resmi kepada USTR atas rencana tarif tambahan Amerika Serikat terhadap produk asal Vietnam. Kedua perusahaan menilai bea masuk baru berpotensi menaikkan biaya produksi dan mengganggu rantai pasok manufaktur yang bergantung pada fasilitas di Vietnam. Penyelidikan USTR dijadwalkan rampung paling lambat 29 November 2026.
Masukan kedua perusahaan diserahkan ke Kantor Perwakilan Dagang Amerika Serikat (USTR) menjelang tenggat penyelidikan dugaan pelanggaran hak kekayaan intelektual Vietnam. Pemerintahan Presiden Donald Trump akan memutuskan apakah tarif tambahan diberlakukan setelah penyelidikan selesai.
Reuters melaporkan pada Senin, 2 November 2026, bahwa rencana tarif baru memecah kalangan pebisnis Amerika menjadi dua kubu. Sebagian perusahaan ingin hubungan dagang dengan Vietnam tetap berjalan tanpa beban tambahan, sebagian lain mendesak Washington menjatuhkan sanksi perdagangan.
Tesla meminta USTR mempertimbangkan kebutuhan rantai pasok produsen otomotif Amerika. Produsen kendaraan listrik itu menyatakan sejumlah komponen canggih dan peralatan manufaktur presisi belum dapat diperoleh sepenuhnya dari produksi domestik AS.
Kondisi tersebut membuat Vietnam tetap berperan penting bagi kegiatan manufaktur perusahaan-perusahaan Amerika, meski Washington berupaya memperkuat industri dalam negeri. Bagi Tesla, gangguan pasokan komponen berpotensi berdampak langsung pada laju produksi kendaraan listriknya.
Melalui unit bisnisnya di AS, Samsung menyampaikan keberatan serupa. Perusahaan asal Korea Selatan itu menyebut Vietnam memproduksi bagian signifikan dari ponsel pintar dan peralatan jaringan Samsung yang dipasarkan di Amerika.
Vietnam merupakan salah satu basis manufaktur terbesar Samsung di luar Korea Selatan. Nilai investasi perusahaan di negara tersebut telah mencapai sekitar 25 miliar dolar AS, menjadikan Vietnam simpul produksi yang sulit digantikan dalam waktu singkat.
Penolakan tidak hanya datang dari Tesla dan Samsung. Sejumlah kelompok perdagangan yang mewakili industri alas kaki, pakaian, sepeda, serta produk konsumen lain meminta pemerintah AS tidak menjatuhkan bea masuk baru.
Kelompok-kelompok itu berkepentingan besar terhadap keberlanjutan produksi di Vietnam. Pengenaan tarif tambahan dinilai akan menaikkan harga barang dan membebani perusahaan yang mengandalkan fasilitas manufaktur di negara tersebut.
Di sisi berlawanan, perwakilan produsen baja, makanan laut, kayu lapis, panel surya, dan produk kayu mendukung tindakan lebih keras terhadap Vietnam. Mereka menuduh Vietnam menerapkan praktik perdagangan yang merugikan produsen Amerika.
Perpecahan ini membuat keputusan USTR menjadi taruhan bagi dua kepentingan besar: kelancaran pasokan komponen industri teknologi dan otomotif, berhadapan dengan permintaan perlindungan produsen domestik. Tenggat 29 November 2026 akan menentukan arah kebijakan tarif Washington terhadap Hanoi.