Telkom Buka 2026 dengan Pendapatan Rp37,2 Triliun, Segmen B2B Tumbuh Paling Kencang 6,8 Persen

Penulis: Fauzan Arifin  •  Jumat, 29 Mei 2026 | 20:55:01 WIB
Telkom membukukan pendapatan Rp37,2 triliun pada kuartal pertama 2026 dengan laba bersih normalisasi Rp5,1 triliun.

KALIMANTAN TIMUR — Telkom memulai tahun 2026 dengan kinerja yang solid meskipun masih dibayangi normalisasi bisnis dan percepatan depresiasi aset. Sepanjang Januari–Maret, emiten berkode saham TLKM ini membukukan EBITDA Rp18 triliun dengan margin 48,3 persen. Laba bersih yang dinormalisasi mencapai Rp5,1 triliun, atau setara margin 13,8 persen.

Arus kas operasional justru tumbuh 3,1 persen secara tahunan menjadi Rp17,3 triliun. Direksi menyebut kenaikan ini berkat efisiensi belanja modal dan disiplin penagihan yang semakin ketat.

ARPU Naik 6,4 Persen, Payload Data Terus Bertambah

Di segmen B2C, Telkomsel mencatat pendapatan Rp27,6 triliun, naik tipis 1,3 persen. Pertumbuhan ini ditopang oleh bisnis digital dan kenaikan konsumsi data. Payload data tumbuh 2,3 persen secara tahunan, sementara ARPU (rata-rata pendapatan per pelanggan) melonjak 6,4 persen menjadi Rp45.100.

Direktur Utama Telkom Dian Siswarini menilai pasar telekomunikasi masih prospektif. Menurutnya, konektivitas dan internet sudah menjadi kebutuhan primer masyarakat Indonesia.

“Dalam beberapa tahun terakhir pun kami melihat kebutuhan terhadap layanan internet terus tumbuh dan belum menunjukkan adanya tren penurunan,” ujarnya dalam paparan kinerja perseroan.

Telkomsel juga melanjutkan ekspansi jaringan secara disiplin dan berkelanjutan, sembari menyederhanakan produk dan menjaga harga agar tetap rasional. Strategi ini dinilai membuat pasar lebih stabil dan sehat.

Bisnis Menara dan Data Center Jadi Motor Baru

Segmen B2B infrastruktur menunjukkan akselerasi paling tajam. Pendapatan mencapai Rp2,4 triliun, tumbuh 6,8 persen secara tahunan, terutama berkat ekspansi Fiber-to-the-Tower (FTTT). Mitratel, anak usaha Telkom di bisnis menara, mencatat pendapatan Rp2,3 triliun dengan margin EBITDA stabil di 82,7 persen.

Mitratel juga menambah 1.080 kilometer serat optik sepanjang kuartal pertama, sehingga total kepemilikan mencapai 58.279 km. Langkah ini memperkuat posisi perusahaan sebagai pemimpin pasar menara telekomunikasi di Asia Tenggara.

Di lini data center, Telkom mengandalkan NeutraDC Group dan fasilitas edge NeuCentrIX. Permintaan terhadap pusat data terus tumbuh seiring meningkatnya aktivitas industri digital. Konsolidasi aset data center di bawah NeutraDC disebut penting untuk membuka peluang monetisasi dan kolaborasi dengan mitra strategis.

Sementara itu, unit Wholesale & International Service membukukan pendapatan Rp2,8 triliun. Layanan interkoneksi tercatat tumbuh 18,9 persen secara kuartalan, menandakan pemulihan permintaan dari operator lain.

Dian Siswarini menegaskan bahwa tahun ini akan menjadi periode percepatan eksekusi strategi TLKM 30. “Kinerja kuartal pertama tahun 2026 ini menjadi awal yang baik dan motivasi bagi TelkomGroup untuk terus melakukan perbaikan secara bertahap,” tutupnya.

Reporter: Fauzan Arifin
Sumber: liputan6.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top