KALIMANTAN TIMUR — Mata uang Garuda terkoreksi 32 poin atau setara 0,18 persen dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya. Tekanan terhadap rupiah pagi ini tidak berdiri sendiri, melainkan sejalan dengan pelemahan mayoritas mata uang utama di kawasan Asia dan negara maju.
Pergerakan Mata Uang Asia yang Bervariasi
Di Asia, pergerakan nilai tukar masih terbelah. Yuan China dan peso Filipina mencatatkan penguatan tipis masing-masing 0,05 persen dan 0,09 persen. Namun, mata uang lainnya justru tertekan. Ringgit Malaysia melemah 0,04 persen, dolar Singapura turun 0,05 persen, dan yen Jepang terkoreksi 0,06 persen. Koreksi paling dalam terjadi pada won Korea Selatan yang ambles 0,16 persen, sementara dolar Hong Kong melorot 0,01 persen.
Tekanan yang sama juga menghantam mata uang utama negara maju. Euro Eropa, poundsterling Inggris, dolar Australia, dolar Kanada, hingga franc Swiss kompak berada di zona merah terhadap greenback. Kondisi ini memperkuat dominasi dolar AS di pasar global pagi ini.
Dua Katalis yang Menahan Pergerakan Rupiah
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai rupiah akan bergerak konsolidatif sepanjang hari ini. Investor memilih bermanuver hati-hati atau wait and see sembari menunggu dua data kunci.
“Rupiah diperkirakan berkonsolidasi terhadap dolar AS. Investor wait and see rilis data neraca transaksi berjalan kuartal I Indonesia,” ujar Lukman. Data tersebut akan menjadi indikator fundamental bagi ketahanan eksternal ekonomi Indonesia di tengah gejolak nilai tukar.
Selain itu, pasar juga masih mengantisipasi respons Iran terhadap proposal terbaru Amerika Serikat. Eskalasi geopolitik di Timur Tengah selalu menjadi faktor yang mendorong permintaan terhadap aset safe haven seperti dolar AS, yang pada akhirnya menekan mata uang emerging market termasuk rupiah.
Rentang Pergerakan yang Diprediksi Analis
Lukman memperkirakan pergerakan rupiah hari ini akan berada dalam rentang Rp17.600 hingga Rp17.750 per dolar AS. Level psikologis Rp17.700 yang sempat ditembus pagi ini menjadi ujian pertama bagi ketahanan rupiah. Jika tekanan berlanjut, bukan tidak mungkin rupiah menguji batas atas proyeksi tersebut.
Bagi pelaku usaha yang memiliki exposure dalam dolar AS, fluktuasi ini menjadi pengingat untuk terus memantau pergerakan kurs dan mengelola risiko valas secara disiplin. Sementara bagi investor, data neraca transaksi berjalan yang akan dirilis bisa menjadi petunjuk arah kebijakan moneter ke depan.