PASER — Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, terkoreksi cukup dalam sejak bulan lalu. Kondisi ini memicu kekhawatiran di kalangan pekebun swadaya yang menggantungkan hidup pada komoditas utama daerah tersebut.
Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunak) Paser, Djoko Bawono, menyebut penurunan harga terjadi secara bertahap sepanjang Mei. Ia menegaskan bahwa fenomena ini bukan semata-mata faktor musiman, melainkan lebih dipicu oleh ketidakpastian regulasi di tingkat pusat.
Menurut Djoko, salah satu pemicu utama anjloknya harga adalah wacana pemerintah pusat yang hendak menerapkan sistem ekspor satu pintu untuk produk sawit. “Kebijakan ini masih dalam tahap wacana, tetapi dampaknya sudah terasa di lapangan,” ujarnya kepada media beberapa waktu lalu.
Ketidakjelasan aturan tersebut, lanjut Djoko, membuat para eksportir dan pabrik pengolahan cenderung menahan pembelian TBS dari petani. Akibatnya, harga di tingkat kebun pun ikut tertekan. Ia menambahkan bahwa situasi ini diperparah oleh fluktuasi harga minyak sawit mentah (CPO) global yang belum stabil.
Kondisi ini dinilai paling berat dirasakan oleh petani swadaya yang tidak memiliki ikatan kontrak jangka panjang dengan pabrik. Mereka kerap menjadi pihak yang paling pertama merasakan dampak ketika rantai pasok tersendat atau harga anjlok.
Djoko mengakui bahwa pihaknya terus memantau perkembangan harga di tingkat petani dan berkoordinasi dengan Asosiasi Petani Kelapa Sawit (APKASINDO) setempat. “Kami berharap ada kepastian dari pemerintah pusat soal kebijakan ini. Jangan sampai petani terus menjadi korban ketidakpastian,” tegasnya.
Hingga berita ini diturunkan, Pemerintah Kabupaten Paser belum mengambil langkah intervensi harga secara langsung. Disbunak masih mengandalkan pendekatan koordinasi dan komunikasi dengan para pelaku usaha untuk menjaga harga tetap di level yang wajar.
Paser merupakan salah satu kabupaten penghasil sawit utama di Kalimantan Timur. Sebagian besar lahan perkebunan dikelola oleh petani rakyat, sehingga fluktuasi harga TBS berdampak langsung pada perekonomian rumah tangga di wilayah tersebut.