PASER — Permintaan Bupati Paser dr Fahmi Fadli kepada PT Kideco Jaya Agung untuk membangun jembatan penghubung antara Rantau Layung dan Rantau Buta menjadi angin segar bagi warga di dua desa tersebut. Selama bertahun-tahun, akses transportasi antarwilayah hanya mengandalkan perahu tradisional yang rawan kecelakaan dan sangat bergantung pada kondisi cuaca. Jika terealisasi, jembatan ini akan memangkas waktu tempuh yang sebelumnya bisa memakan waktu hingga satu jam menjadi hanya beberapa menit.
Kebutuhan akan jembatan permanen di Rantau Layung dan Rantau Buta sudah lama menjadi aspirasi utama warga. Kedua desa yang terletak di Kecamatan Batu Sopang ini dipisahkan oleh sungai besar yang kerap meluap saat hujan deras. “Kami setiap hari harus menyebrang pakai getek (rakit) atau perahu motor. Kalau hujan deras, anak-anak sekolah sering terlambat karena arus sungai kencang,” ujar seorang tokoh masyarakat setempat saat ditemui pekan lalu.
Tanpa jembatan, distribusi hasil bumi seperti kelapa sawit dan karet dari petani juga terhambat. Biaya transportasi membengkak karena harus menggunakan jalur alternatif yang lebih jauh. Hal ini membuat harga jual komoditas di tingkat petani menjadi lebih rendah dibandingkan jika akses jalan lancar.
PT Kideco Jaya Agung selama ini dikenal sebagai salah satu perusahaan tambang batu bara terbesar di Kalimantan Timur yang beroperasi di Kabupaten Paser. Dalam pertemuan dengan Bupati, manajemen perusahaan menyatakan kesanggupan untuk mengkaji permintaan tersebut. Kontribusi perusahaan dalam pembangunan infrastruktur publik seperti jembatan sebenarnya sudah diatur dalam skema program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) maupun dana bagi hasil produksi.
“Kami berharap PT Kideco bisa menjadi mitra strategis pemerintah daerah dalam membangun akses jalan dan jembatan yang langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” kata dr Fahmi Fadli dalam kesempatan yang sama. Bupati juga menambahkan bahwa pembangunan jembatan ini bukan hanya soal akses, tetapi juga soal pemerataan ekonomi di wilayah pedalaman Paser.
Jika jembatan Rantau Layung-Rantau Buta jadi dibangun, dampak ekonomi diprediksi akan langsung terasa. Aktivitas perdagangan antar desa akan meningkat, biaya logistik turun drastis, dan mobilitas tenaga kerja menjadi lebih efisien. Warga yang selama ini memilih bekerja di luar daerah karena akses sulit, kemungkinan akan kembali mengelola lahan pertanian dan perkebunan mereka.
Selain itu, akses ke fasilitas publik seperti puskesmas dan sekolah juga akan lebih cepat. Saat ini, warga yang sakit parah harus diangkut menggunakan tandu menuju perahu, lalu dibawa ke puskesmas yang jaraknya puluhan kilometer. Kondisi ini kerap menjadi kendala dalam penanganan medis darurat.
Pemerintah Kabupaten Paser saat ini masih menunggu hasil kajian teknis dari PT Kideco Jaya Agung terkait desain jembatan dan estimasi anggaran. Bupati berharap proses ini tidak berlarut-larut dan pembangunan bisa dimulai pada tahun anggaran mendatang. Jika semua berjalan lancar, jembatan ini akan menjadi salah satu infrastruktur strategis yang menghubungkan wilayah selatan Kabupaten Paser dengan pusat kecamatan.
Warga Rantau Layung dan Rantau Buta pun berharap agar permintaan Bupati segera ditindaklanjuti. “Kami sudah puluhan tahun menunggu. Semoga tahun ini ada kabar baik,” ujar seorang petani karet setempat.