Review Toy Story 5: Kritik Cerdas soal Dampak Gadget pada Anak dan Peran Orang Tua

Penulis: Fauzan Arifin  •  Sabtu, 20 Juni 2026 | 08:33:31 WIB
Woody dan kawan-kawan menghadapi era digital dalam Toy Story 5 dengan kehadiran tablet Lilypad.

KALIMANTAN TIMUR — Setelah lima film, dunia kain dan plastik milik Woody dan kawan-kawan akhirnya bersentuhan dengan era digital. Toy Story 5 memperkenalkan Lilypad, sebuah tablet yang diberikan kepada Bonnie—pemilik baru mainan-mainan tersebut—setelah orang tuanya khawatir ia kesulitan berteman. Bedanya dengan film-film bertema anti-teknologi lainnya, Pixar tidak menjadikan perangkat ini sebagai penjahat mutlak.

Lilypad Bukan Sekadar "Antagonis" Teknologi

Dalam film ini, Lilypad (disuarakan Greta Lee) bertindak seperti konsultan yang memaksakan cara pandangnya sendiri. Tablet itu mengirimkan permintaan pertemanan ke beberapa teman sekelas Bonnie, yang akhirnya mengundangnya ke pesta menginap. Ironisnya, alih-alih bermain bersama, semua anak justru asyik dengan layar masing-masing.

Masalah semakin runyam ketika teman-teman baru Bonnie mulai mengejeknya karena masih bermain dengan mainan lawas. Situasi ini memaksa orang tua Bonnie untuk menonaktifkan akses jejaring sosial di Lilypad. Adegan ini mungkin terasa familiar bagi orang tua yang anaknya mengalami perundungan di platform seperti Zigazoo atau JusTalk Kids—aplikasi yang mengklaim aman namun tetap menyisakan ruang bagi dinamika sosial yang buruk.

Dua Sisi Mata Uang: Bahaya dan Peluang dari Layar

Di sisi lain, mainan lama seperti Jessie (Joan Cusack) juga sadar bahwa mereka sudah ketinggalan zaman. Saat mencoba menyusup ke pesta menginap Bonnie, Jessie justru menjadi sumber rasa malu. Namun, film ini tidak lantas memusuhi teknologi. Sebaliknya, Lilypad justru menjadi jembatan bagi Bonnie untuk bertemu Blaze—seorang gadis lain yang juga masih bermain dengan mainan secara tradisional.

Pesan yang disampaikan cukup gamblang: teknologi bisa menjadi alat isolasi sekaligus koneksi. Riset memang menunjukkan hubungan antara kecemasan dan permainan imajinatif pada anak, dan Toy Story 5 menggunakan karakter-karakternya untuk menyampaikan pesan itu. Namun, film ini juga mengakui bahwa di dunia nyata, menonton video saat bepergian atau bermain game edukatif di iPad bisa sangat membantu—asalkan ada moderasi dan pengawasan orang tua.

Kritik yang Terlewat: Potensi Game Modern

Satu catatan yang terlewat dari Toy Story 5 adalah minimnya eksplorasi terhadap jenis permainan digital baru. Lilypad hanya menampilkan beberapa game dasar untuk anak-anak. Padahal, di dunia nyata, iPad bisa memainkan Minecraft—game yang justru paling mendekati permainan imajinatif tradisional. Kompleksitasnya bahkan bisa tumbuh bersama anak hingga dewasa, melebihi mainan seperti Woody atau Buzz Lightyear.

Pesan untuk Orang Tua Zaman Now

Setelah lima film, Pixar sepertinya sudah kehabisan ide segar untuk waralaba ini. Toy Story 3 sukses membuat satu generasi trauma, sementara Toy Story 5 tidak seekstrem pendahulunya. Namun, setidaknya film ini menjadi pengingat bagi orang tua bahwa mereka tidak bisa bersantai dan lepas tangan soal teknologi. Kuncinya bukan pada pelarangan, melainkan pada pendampingan aktif—sama seperti cara Bonnie akhirnya bisa memanfaatkan tabletnya untuk hal yang positif.

Reporter: Fauzan Arifin
Sumber: engadget.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top