Disdikbud Samarinda Siapkan 24 Materi Muatan Lokal Kebudayaan Sekolah, Ada Tari Tradisional hingga Bahasa Kutai

Penulis: Hendra Setiawan  •  Senin, 03 Agustus 2026 | 14:28:31 WIB
Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kota Samarinda, Barlin Hady Kusuma, menyampaikan penyusunan 24 pilihan materi muatan lokal kebudayaan untuk satuan pendidikan di Samarinda.

SAMARINDA — Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Samarinda, Kalimantan Timur, resmi menyiapkan 24 pilihan materi muatan lokal kebudayaan untuk seluruh satuan pendidikan di daerah setempat. Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kota Samarinda, Barlin Hady Kusuma, mengatakan ragam opsi tersebut dirancang agar siswa tidak sekadar mengenal tradisi, tetapi benar-benar mempraktikkannya.

"Penyusunan 24 pilihan muatan lokal ini dirancang untuk mendekatkan generasi muda dengan akar tradisi daerahnya melalui pembelajaran menyenangkan di sekolah," ujar Barlin di Samarinda, Minggu.

Lima Bidang Materi yang Bisa Dipilih Sekolah

Setidaknya ada lima kelompok besar materi yang ditawarkan dalam kebijakan ini. Sekolah diberikan keleluasaan penuh untuk memilih sesuai minat siswa dan kesiapan tenaga pengajar.

  • Seni tari tradisional
  • Tata boga khas daerah
  • Tata busana lokal
  • Cerita rakyat
  • Olahraga tradisional

Penerapan materi ini berdasar pada Peraturan Wali Kota Samarinda yang telah disahkan. Fleksibilitas kurikulum ini juga membuka ruang bagi sekolah untuk mengembangkan pembelajaran bahasa daerah, seperti bahasa Kutai, Banjar, maupun Dayak secara optimal.

Mengapa Sekolah Bebas Pilih Materi?

Kebijakan ini tidak menerapkan satu materi wajib yang seragam untuk semua sekolah. Menurut Barlin, setiap satuan pendidikan memiliki karakteristik siswa yang berbeda-beda.

"Setiap satuan pendidikan diberikan kebebasan untuk memilih materi muatan lokal yang paling sesuai dengan minat siswa serta kesiapan sekolah," jelasnya.

Langkah ini merupakan bagian dari penguatan pendidikan karakter berbasis kearifan lokal. Disdikbud menargetkan lahirnya generasi muda yang bangga terhadap identitas budaya daerahnya masing-masing.

Integrasi Teknologi dan Festival Budaya Tahunan

Pembelajaran tidak hanya berhenti di dalam kelas. Para pelajar juga didorong membuat konten digital kreatif yang mengangkat sejarah dan cagar budaya di lingkungan sekitar tempat tinggal mereka.

"Kami ingin memastikan kebudayaan lokal tidak hanya menjadi wacana, tetapi benar-benar dipraktikkan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari para siswa," sebut Barlin.

Integrasi teknologi digital dalam tugas sekolah dinilai efektif meningkatkan minat belajar serta pemahaman siswa terhadap nilai-nilai sejarah daerah. Pemerintah kota turut memfasilitasi ajang unjuk bakat melalui pementasan seni dan festival budaya tahunan bagi pelajar berprestasi.

Benteng Pengaruh Negatif Modernisasi

Penguatan ekosistem pendidikan berbasis budaya ini diharapkan mampu membentengi remaja dari pergeseran nilai di era modernisasi. Disdikbud menilai generasi muda saat ini rentan terpapar pengaruh negatif jika tidak memiliki pegangan identitas yang kuat.

"Harapan kami seluruh sekolah dapat memanfaatkan opsi muatan lokal ini secara konsisten agar warisan leluhur tetap lestari di masa mendatang," tutur Barlin.

Sinergi antara kurikulum sekolah dan ekspresi seni peserta didik ini disebut menjadi fondasi utama mewujudkan Samarinda sebagai kota pusat peradaban baru di Kalimantan Timur.

Reporter: Hendra Setiawan
Sumber: kaltim.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top