Harga Pertalite Lebih Murah Rp 6.300 dari Pertamax, Petani Muara Badak Ini Pilih Panel Surya untuk Lepas dari BBM

Penulis: Fauzan Arifin  •  Rabu, 19 Agustus 2026 | 12:22:13 WIB
Petani Muara Badak memanfaatkan panel surya untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar minyak di lahan pertaniannya.

KUTAI KARTANEGARA — Di tengah hiruk-pikuk antrean kendaraan di SPBU akibat selisih harga Pertalite dan Pertamax yang mencapai Rp 6.300 per liter, sekelompok petani di Muara Badak memilih jalan berbeda. Mereka tidak lagi bergantung pada bahan bakar minyak untuk menggerakkan pompa air dan penerangan kebun.

Choirul Munasikin, yang akrab disapa Pak Amat, adalah salah satu motor penggeraknya. Pria berusia 49 tahun itu mengaku baru saja menerima bantuan panel surya untuk lahan pertaniannya yang berada sekitar 500 meter dari Gang Karya, tak jauh dari Bandara APT Pranoto Samarinda.

Surplus Listrik 15 Ribu Watt untuk Kebun dan Warga Sekitar

"Alhamdulilah. Kami sekarang dapat bantuan panel surya," ujar Pak Amat kepada BeritaKaltim.Co, Rabu (19/8/2026).

Dari total kapasitas 20 ribu watt yang dihasilkan, kebutuhan operasional kebunnya hanya sekitar 5 ribu watt. Sisa daya sebesar 15 ribu watt itu kini menjadi persoalan baru yang sedang ia pikirkan solusinya.

Pak Amat tidak bekerja sendiri. Ada 20 warga Desa Tanah Datar yang ia pekerjakan untuk membantu menggarap lahan seluas 3 hektare tersebut. Keberadaan listrik mandiri ini otomatis mengurangi ketergantungan mereka pada solar atau bensin untuk mesin pompa.

Kebun di Lahan Emas Migas yang Berusia 45 Tahun

Lokasi kebun Pak Amat berada di kawasan yang memiliki sejarah panjang industri energi. Muara Badak dikenal sebagai salah satu titik awal penemuan cadangan minyak dan gas bumi di Kalimantan Timur sejak 1972 oleh pengusaha asal Texas, Roy Huffington, melalui perusahaan Huffco.

Gas yang dihasilkan dari sumur-sumur di daratan Muara Badak dialirkan melalui pipa ke PT Badak NGL di Bontang untuk diolah menjadi LNG dan diekspor ke Jepang. Rantai pasok ini berjalan selama 45 tahun hingga pengelolaan blok migas resmi beralih ke PT Pertamina Hulu Sanga-Sanga (PHSS) pada 8 Agustus 2018.

Antrean BBM di SPBU Samarinda dan Balikpapan Mengular Imbas Perang

Fenomena antrean panjang di SPBU Samarinda, Balikpapan, dan sekitarnya terjadi setelah pemerintah menetapkan harga Pertamax (RON 92) menjadi Rp 16.300 per liter. Sementara Pertalite yang disubsidi tetap bertahan di harga Rp 10.000 per liter.

Kondisi ini berbeda dengan periode Maret hingga Mei 2026, ketika harga Pertamax masih berada di angka Rp 12.600 dan antrean kendaraan tidak sampai mengular. Lonjakan harga kali ini dipicu eskalasi perang antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran yang berdampak pada rantai pasok energi global.

Indonesia sendiri masih mengimpor sekitar 900 ribu barel minyak mentah per hari dari total kebutuhan konsumsi 1,5 juta barel. Adapun produksi dalam negeri hanya mampu mencapai 605 ribu barel per hari berdasarkan data lifting 2025.

Pemerintah Dorong Penghematan, Petani Pilih Energi Alternatif

Pemerintahan Prabowo Subianto telah menginstruksikan aparatur sipil negara (ASN) untuk bekerja dari rumah atau work from home setiap hari Jumat sejak 1 April 2026. Kebijakan ini diambil untuk menekan konsumsi BBM nasional di tengah tekanan fiskal akibat harga minyak dunia yang melonjak.

Di sisi lain, inisiatif seperti yang dilakukan Pak Amat menunjukkan bahwa transisi energi tidak selalu harus menunggu kebijakan besar dari pusat. Dengan dukungan teknologi panel surya, masyarakat di daerah penghasil migas justru bisa menjadi pelopor kemandirian energi di tingkat akar rumput.

Reporter: Fauzan Arifin
Sumber: beritakaltim.co This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top