KALIMANTAN TIMUR — Kasus pencurian kekayaan intelektual (IP) di industri semikonduktor kembali mencuat ke publik. Seorang mantan insinyur Samsung Electronics yang telah bekerja selama 28 tahun, dijatuhi hukuman tujuh tahun penjara pada April lalu. Ia terbukti secara ilegal membawa kabur dokumen Process Recipe Plan (PRP) yang berisi 600 langkah detail fabrikasi DRAM, termasuk untuk node kelas 18nm.
Dokumen tersebut, menurut keterangan pengadilan Korea Selatan yang dilansir Maeil Business, ditujukan untuk ChangXin Memory Technologies (CXMT), produsen DRAM terbesar di China. Kesaksian Jeon di pengadilan pekan ini mengungkap niat strategis yang sudah direncanakan sejak awal oleh manajemen CXMT.
"Sejak awal, CEO dan CTO CXMT mencoba mengembangkan DRAM dengan mencuri informasi Process Recipe Plan (PRP) milik Samsung Electronics," ujar Jeon dalam persidangan, seperti dikutip Maeil Business. Ia menambahkan, "CXMT tidak memiliki institut riset atau fasilitas pada saat pendiriannya, dan tidak punya niat untuk mengembangkan teknologi melalui riset sendiri."
Pernyataan ini mematahkan asumsi bahwa akuisisi IP tersebut terjadi secara oportunistik setelah proses pengembangan internal CXMT berjalan. Justru, pencurian ini menjadi fondasi dari rencana bisnis perusahaan sejak awal.
Proses Recipe Plan (PRP) bukan sekadar dokumen teknis biasa. Ia berisi panduan berurutan yang sangat detail, mencakup urutan langkah, kondisi deposisi dan etsa, suhu, tekanan, hingga parameter implantasi. Bagi perusahaan yang baru merintis, memiliki "resep" ini bisa memangkas waktu riset dan pengembangan (R&D) yang biasanya memakan waktu 3-5 tahun untuk sebuah node produksi.
Meski menyalin resep tidak otomatis menghasilkan proses fabrikasi yang berfungsi sempurna, dokumen ini menghilangkan sebagian besar proses trial-and-error. Insinyur proses yang berpengalaman dapat mengkombinasikan resep tersebut dengan reverse engineering pada produk jadi untuk merekonstruksi arsitektur transistor dan desain fisiknya.
Sebagai gambaran, Samsung membutuhkan waktu lima tahun untuk mengembangkan node 18nm-nya. CXMT sendiri baru memulai produksi massal DDR4 dengan node 22nm pada 2019, dan baru mencapai node 18nm pada 2023. Lini masa ini memunculkan pertanyaan apakah IP curian tersebut mempercepat lompatan teknologi CXMT dari 22nm ke 18nm, atau justru menjadi dasar dari node 22nm (G1) mereka.
Kasus ini menyoroti betapa ketatnya persaingan di industri memori global, terutama dengan meningkatnya permintaan dari pusat data AI. Penguasaan teknologi fabrikasi yang efisien menjadi kunci untuk menekan biaya produksi dan meningkatkan kapasitas. Keputusan pengadilan yang menyatakan CXMT mencuri IP Samsung untuk mendongkrak kemampuan produksinya menjadi preseden penting dalam perlindungan kekayaan intelektual di sektor semikonduktor.
Bagi pengamat industri, kasus ini juga menjadi sinyal bahwa penguasaan teknologi tidak bisa dibangun instan. Meski resep fabrikasi dapat memperpendek kurva belajar, ekosistem riset dan pengembangan internal tetap menjadi fondasi yang tidak bisa diabaikan oleh pemain baru yang ingin serius bersaing di pasar global.