SAMARINDA — Mal Lembuswana bukan sekadar bangunan beton di pusat Kota Samarinda. Bagi sebagian warga, terutama yang tumbuh besar di era 1990-an, gedung ini adalah monumen kemajuan kota. Namun, hampir tiga dekade setelah berdiri, denyut nadi pusat perbelanjaan pertama di Kalimantan Timur itu kini nyaris tak terasa.
Sejumlah gerai tutup, lorong-lorong yang dulu dipadati pengunjung kini sepi. Suasana yang pernah hidup dan megah itu berubah drastis di tengah menjamurnya mal modern dan pusat belanja baru di Samarinda.
Kenangan tentang Lembuswana tak bisa dilepaskan dari kisah perjalanan seorang siswa asal Kabupaten Berau. Pada 1997, Endro S. Efendi, yang saat itu masih duduk di bangku SMA Negeri 2 Berau, menginjakkan kaki pertama kali di Samarinda.
Kedatangannya bukan untuk berwisata, melainkan mewakili daerahnya dalam lomba pidato P4. Perjalanan itu menjadi rangkaian pengalaman pertama yang tak terlupakan: naik pesawat perintis Bali Air jenis Britten-Norman dan melihat langsung kemegahan Lembuswana.
"Bagi saya yang berasal dari Berau, pengalaman itu sungguh luar biasa. Di Berau belum ada pusat perbelanjaan modern. Kalau ingin berbelanja, ya pergi ke pasar," kenangnya.
Saat itu, Lembuswana adalah representasi kemajuan. Dalam ingatan Endro, bangunan ini adalah bukti bahwa Kalimantan juga memiliki pusat perbelanjaan besar dan modern.
Perasaan kagum itu melekat kuat. Lembuswana menjadi penanda bahwa Samarinda adalah kota besar yang layak diperhitungkan, setara dengan kota-kota maju di Pulau Jawa.
Ia mengaku, meski lomba yang diikutinya tak menorehkan hasil juara, kesan pertama terhadap mal tersebut justru menjadi bagian kecil dari perjalanan hidupnya. "Yang justru melekat adalah pengalaman pertama naik pesawat, pertama kali menginjakkan kaki di Samarinda, dan pertama kali melihat pusat perbelanjaan modern," tuturnya.
Kisah Lembuswana juga berkaitan erat dengan perubahan wajah Samarinda secara keseluruhan. Bandara Temindung, yang dulu menjadi pintu gerbang utama kota, kini sudah tak lagi melayani penerbangan komersial. Fungsinya digantikan Bandara APT Pranoto di Sungai Siring.
Landasan pacu Temindung yang dulu menjadi tempat pesawat mendarat, kini berubah fungsi menjadi ruang publik untuk berolahraga. "Begitulah waktu mengubah sebuah kota," ujar Endro.
Perubahan serupa terjadi pada Lembuswana. Apa yang dulu dianggap paling megah, kini harus bersaing dengan pusat perbelanjaan baru yang lebih modern dan marketplace yang menawarkan kemudahan belanja dari rumah.
Kondisi Lembuswana saat ini menjadi cermin tantangan besar bagi pusat perbelanjaan konvensional di era digital. Masyarakat kini memiliki begitu banyak alternatif untuk berbelanja dan menghabiskan waktu.
Persoalan Lembuswana sebenarnya bukan sekadar bagaimana membuat sebuah mal kembali ramai. Ini tentang bagaimana sebuah bangunan bersejarah beradaptasi dengan zaman, tanpa kehilangan identitas dan kenangan yang melekat padanya.
Meski aktivitas komersialnya meredup, Lembuswana tetap menjadi bagian penting dari ingatan kolektif warga Kalimantan Timur. Ia adalah saksi bisu bagaimana Samarinda tumbuh dari kota kecil menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi di Pulau Kalimantan.