SAMARINDA — Tarif sewa yang ditetapkan pengelola baru Mal Lembuswana disebut masih lebih rendah dibandingkan pusat perbelanjaan lain di Kalimantan Timur. General Manager Lembuswana, Yulius GK, menyebut angka itu sudah mempertimbangkan lokasi strategis di pusat Kota Samarinda dan luas bangunan ruko yang mencapai tiga lantai.
“Rentang sewa ruko Rp90 juta hingga Rp120 juta pertahun, dan unit didalam mal lantai 1 Rp230 ribu per meter/bulan, lantai 2 Rp180 ribu dan lantai 3 Rp130 ribu,” kata Yulius, Selasa (25/8/2026).
“Kita sudah lakukan survei ke beberapa mal lain, dan harga tersebut terjangkau tentunya,” ujarnya.
Selain biaya sewa pokok, penyewa unit di dalam mal dikenakan biaya perawatan alias service charge sebesar Rp 120 per meter persegi per bulan. Tarif ini berlaku seragam untuk seluruh lantai bangunan.
Sejumlah unit yang lama kosong mulai dilirik pelaku usaha. Area bekas gerai jam tangan Zoom Watch, misalnya, kini diminati calon penyewa dari sektor makanan dan minuman. Sementara itu, ruang bekas toko pakaian di bagian depan rencananya akan disulap Bankaltimtara menjadi gerai bergaya lounge perbankan seperti di bandara.
Manajemen juga mengklaim beberapa merek nasional tengah menjajaki kerja sama, seperti Mr DIY, J.CO, Excelso, dan CGV. Saat ini terdapat sekitar 60 unit di dalam mal dan 190 ruko di kawasan Lembuswana.
Kehadiran bioskop menjadi salah satu daya tarik utama yang tengah dipersiapkan. Yulius menyebut CGV dan Cinepolis telah menunjukkan ketertarikan terhadap konsep tata ruang yang ditawarkan.
“Untuk bioskop, proses menjajaki kerja sama tenan nasional butuh waktu 6 bulan hingga 1 tahun. Perlu pencocokan harga, sitem kerja sama, fiting out ruang selama 1-2 bulan. Dan brand bioskop yang tertarik ada Cinepolis dan CGV, tentu kita perlu liat lagi ke depannya,” jelasnya.
Lembuswana tidak hanya berisi mal, tetapi juga GraPARI dan deretan ruko. Pada proses serah terima pengelolaan dari PT CSIS ke KMBS, tercatat rata-rata 2.500 kendaraan roda dua dan hampir 3.000 kendaraan roda empat parkir setiap harinya.
“Karena Lembuswasna ini tidak hanya mal, tapi ada GraPARI dan ruko-ruko lainnya. Dengan kita ramaikan lagi di dalam mal-nya maka potensi kenaikan ekonomi akan luar biasa,” demikian Yulius GK.