BONTANG — Puluhan pembudidaya ikan di Bontang Kuala kini tak lagi harus bergantung penuh pada pakan komersial yang harganya fluktuatif. Lewat pelatihan pembuatan pakan mandiri yang digelar Pupuk Kaltim, mereka dibekali cara menyusun formulasi pakan menggunakan metode Pearson Square hingga kalkulasi komposisi bahan baku melalui Microsoft Excel.
VP TJSL Pupuk Kaltim, Rezha Abdillah, mengatakan intervensi ini lahir dari kebutuhan nyata para pembudidaya di lapangan. Pakan bukan hanya menentukan pertumbuhan dan kualitas ikan, tetapi juga menjadi pos pengeluaran terbesar dalam usaha budidaya.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan dan Pertanian (DKP3) Bontang, Ahmad Aznem, menyebut pakan selama ini menjadi persoalan utama para pembudidaya. Komponennya bisa menyedot 60-70 persen dari total biaya produksi, sehingga kemampuan meracik pakan sendiri menjadi nilai tambah besar.
“Ini hebatnya pemberdayaan Pupuk Kaltim, karena membekali masyarakat dalam hal keilmuan dan keterampilan. Jadi para pembudidaya bisa mengolah sendiri, kemudian memproduksi pakan dalam jumlah yang lebih banyak,” ungkap Aznem.
Rezha menegaskan pelatihan tidak berhenti pada pemahaman teori. Peserta diajak praktik langsung membuat pakan, termasuk mengevaluasi mutu dan mengatur manajemen pemberian pakan yang meliputi dosis, frekuensi, hingga metode pemberian agar hasilnya efektif mendukung produktivitas.
“Berbekal keterampilan yang didukung potensi bahan baku lokal, peserta dapat mencari formulasi yang sesuai dengan kebutuhan budidaya, sekaligus mempertimbangkan aspek kualitas dan efisiensi biaya. Inilah sasaran pelatihan ini dilaksanakan,” kata Rezha saat mengawali kegiatan di Sekretariat HPPK Bontang Kuala.
Pendekatan pemberdayaan berbasis keterampilan ini, lanjut Rezha, sejalan dengan komitmen perusahaan menciptakan nilai tambah bagi masyarakat. Harapannya, usaha binaan tidak selamanya menggantungkan diri pada bantuan, melainkan mampu berinovasi dan mengembangkan kapasitas sendiri.
“Tujuan akhirnya adalah kemandirian. Kami ingin masyarakat memiliki kemampuan mengembangkan usaha sendiri, melakukan inovasi, dan terus meningkatkan kapasitasnya,” tambahnya.
Salah satu peserta, Yusta dari Kelompok Karaka Bontang Kuala, mengaku pelatihan ini memberi pengetahuan baru untuk memanfaatkan bahan baku yang tersedia di sekitar. Ia berencana membagikan ilmu tersebut kepada seluruh anggota kelompoknya.
“Kami optimis setelah ini bisa mencoba membuat pakan sendiri. Kalau biaya pakan bisa ditekan, tentu usaha budidaya juga bisa lebih menguntungkan,” terang Yusta.
Ahmad Aznem berharap pelatihan ini menjadi pemicu peserta untuk terus berinovasi. Menurutnya, keberlanjutan program pemberdayaan akan semakin kuat jika masyarakat mampu mengembangkan sendiri pengetahuan yang diperoleh.
“Untuk itu, kami mengajak pembudidaya Bontang untuk terus berinovasi agar semakin berkembang. Sebab kemandirian hanya dapat tercapai jika kita terus meningkatkan kemampuan dari bekal yang diberikan,” kata Aznem.