KALIMANTAN TIMUR —
Mantan personel Cherrybelle itu mengaku tidak melakukan persiapan khusus menjelang persidangan. Ia justru memilih untuk berserah diri dan mempercayakan proses hukum kepada tim pengacaranya.
"Banyak doa dan menyerahkan semuanya kepada pengacara saya," ujar Sarwendah singkat saat ditemui awak media di lokasi.
Pengacara hadir untuk memastikan hak-hak kliennya terpenuhi sesuai koridor hukum. Sebagai orang tua, fokus utama justru sebaiknya dialihkan pada kondisi psikologis anak yang menjadi pihak paling terdampak dalam perceraian orang tuanya.
Menjalani proses hukum memang menguras energi. Namun perlu diingat, anak-anak tetap membutuhkan kedua orang tuanya hadir secara emosional, apa pun hasil persidangan nanti.
1. Jaga rutinitas anak tetap normal. Anak merasa aman ketika pola hariannya tidak banyak berubah, mulai dari jam tidur, sekolah, hingga waktu bermain. 2. Hindari membicarakan konflik di depan anak. Pertengkaran orang dewasa sebaiknya tidak menjadi konsumsi anak-anak. 3. Pastikan anak tetap bisa menjalin hubungan baik dengan kedua orang tuanya. Dukungan dari ayah dan ibu tetap dibutuhkan untuk tumbuh kembang anak.
Orang tua perlu menjadi pendengar yang baik. Beri ruang pada anak untuk mengekspresikan perasaannya tanpa takut dihakimi. Validasi emosi yang anak rasakan, lalu yakinkan mereka bahwa apa pun yang terjadi, kedua orang tuanya akan tetap menyayangi mereka.
Jika dirasa perlu, konsultasi dengan psikolog anak bisa menjadi langkah bijak. Tenaga profesional dapat membantu anak mengelola perasaannya dengan cara yang sesuai dengan tahap usianya.
Semoga proses yang sedang berlangsung dapat membawa kebaikan bagi semua, terutama bagi anak-anak yang menjadi titik fokus perjuangan ini. Sebagai ibu, kita paham bahwa doa adalah kekuatan terbesar yang bisa dipersembahkan untuk buah hati di tengah situasi yang tidak mudah.