KALIMANTAN TIMUR — Direktur Manajemen Risiko BRI, Ety Yuniarti, menegaskan bahwa pencapaian tersebut merupakan hasil dari strategi ekspansi yang selektif, bukan sekadar mengejar volume penyaluran. Perusahaan memastikan setiap pertumbuhan kredit berada dalam koridor risk appetite dan prinsip kehati-hatian yang ketat.
"Hal ini mencerminkan bahwa ekspansi yang kami lakukan tetap berjalan secara sehat dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian. Kami terus menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan kualitas kredit agar pertumbuhan BRI dapat berkelanjutan dalam jangka panjang," ujar Ety dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (31/8).
Perbaikan kualitas aset tidak hanya terlihat dari rasio NPL. Indikator yang lebih forward-looking, yakni Loan at Risk (LaR), juga menunjukkan tren positif dengan turun ke level 9,1% pada akhir Juni 2026, membaik dari posisi 9,6% pada akhir tahun 2025.
Penurunan LaR ini mencerminkan profil risiko portofolio yang lebih sehat, terutama dari kualitas penyaluran kredit baru. Sejalan dengan itu, biaya risiko atau Cost of Credit (CoC) perseroan berhasil ditekan dari 3,4% pada periode yang sama tahun lalu menjadi 3,1% pada Triwulan II 2026.
Ety menjelaskan, BRI secara konsisten menerapkan strategi selective growth dengan mengarahkan ekspansi ke segmen, sektor, dan nasabah yang memiliki profil risiko terukur. Strategi ini diperkuat dengan sistem peringatan dini (early warning system) serta optimalisasi fungsi penagihan dan pemulihan (collection dan recovery).
Sebagai bank dengan fokus utama pada sektor UMKM, BRI menilai pengelolaan risiko pada portofolio ini menjadi kunci daya tahan perusahaan. Model bisnis berbasis UMKM dinilai memiliki dampak sosial ekonomi yang besar karena bersentuhan langsung dengan aktivitas produktif masyarakat.
"Kami ingin memastikan bahwa setiap pertumbuhan memiliki kualitas yang baik sejak awal. Karena itu, pengelolaan risiko dilakukan secara end-to-end, mulai dari proses pipeline akuisisi dan seleksi debitur, monitoring kualitas kredit, hingga collection dan recovery," jelas Ety.
Keunggulan jaringan yang tersebar luas dan basis nasabah yang terdiversifikasi secara geografis maupun sektoral turut memperkuat ketahanan portofolio kredit perseroan dalam menghadapi dinamika perekonomian nasional.
Hingga akhir Triwulan II 2026, total aset BRI Group mencapai Rp2.352 triliun, tumbuh 11,7% secara tahunan. Sementara itu, penyaluran kredit dan pembiayaan tumbuh 16,2% secara tahunan menjadi Rp1.646 triliun, melampaui rata-rata pertumbuhan industri perbankan.
Perbaikan kualitas aset menjadi penopang utama solidnya kinerja keuangan perseroan di tengah kondisi perekonomian yang dinamis. Dengan disiplin pemantauan risiko yang kuat, BRI optimistis portofolio UMKM akan terus menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan jangka panjang sekaligus memperkuat kontribusi terhadap ekonomi kerakyatan.