KALIMANTAN TIMUR — Badan Pengelola Investasi Danantara menargetkan proyek hilirisasi ayam terintegrasi di Malang, Jawa Timur, rampung pada Mei 2027 sebagai bagian dari belanja investasi Rp 20 triliun di sektor unggas nasional. Proyek ini menjadi uji pertama bagi Danantara dalam membangun industri peternakan modern yang menyentuh langsung rantai pangan masyarakat.
Kepala BP BUMN yang juga menjabat COO Danantara, Dony Oskaria, menegaskan fasilitas peternakan di Malang harus berdiri di atas standar teknologi dan operasional tertinggi. Pengembangan mencakup integrasi bisnis dari hulu ke hilir, penerapan teknologi modern, pemeliharaan kebersihan, hingga pengelolaan profesional. "Nanti saya mau lihat. Jadi ini integratif, peternakan terbaik yang ada di Indonesia. Kelasnya mesti canggih, bersih, tertata," ujar Dony dalam keterangannya, dikutip Kamis (5/11).
Dony menegaskan setiap keputusan investasi harus memperhitungkan potensi imbal hasil atau return on investment. Proyek tanpa prospek bisnis jelas tidak akan diloloskan. "Selama return on investment-nya bagus, kita mau invest. Jadi tetap dipastikan, masuk dalam satu industri itu harus jadi pemenang," ujarnya.
Syarat itu berlaku juga bagi pengembangan bisnis di daerah. Menurut Dony, setiap proyek mesti mampu menjadi acuan atau benchmark bagi industri sejenis di seluruh Indonesia. Pemilihan lokasi dan pelaksanaan investasi dituntut objektif, profesional, serta bebas dari konflik kepentingan. "Makanya, apa yang kita lakukan sekarang, kita betul-betul sangat concern terhadap kualitas manajemen," kata Dony.
Pemerintah melalui Danantara menyiapkan investasi Rp 20 triliun guna memperkuat sektor peternakan unggas nasional di 13 provinsi. Dana itu mengalir ke proyek hilirisasi integrated poultry industry atau industri unggas terintegrasi yang akan dibangun di lima lokasi.
CEO Danantara, Rosan Roeslani, menyebut proyek industri unggas masuk dalam enam proyek hilirisasi yang mulai dibangun pemerintah pada Februari 2026. Artinya, Malang bukan proyek tunggal, melainkan bagian dari peta besar hilirisasi yang menyasar komoditas pangan.
Bagi peternak rakyat, kehadiran fasilitas terintegrasi berpotensi mengubah struktur pasokan anak ayam, pakan, dan harga jual di pasar lokal. Selama ini fluktuasi harga ayam dan jagung kerap menghantam usaha kecil yang tidak punya akses langsung ke industri besar.
Pemerintah menempatkan proyek ini sebagai upaya membangun industri unggas terintegrasi dengan teknologi modern, bukan sekadar menambah kapasitas kandang. Jika berjalan sesuai target Mei 2027, Malang akan menjadi contoh pertama bagaimana Danantara mengelola aset produktif di sektor pangan, bukan hanya infrastruktur atau energi.
Bagi investor, proyek unggas menjadi penanda arah belanja Danantara di luar sektor yang biasa ditangani BUMN. Keberhasilan Malang akan menentukan apakah model investasi ini direplikasi ke empat lokasi lain atau justru dievaluasi ulang sebelum dana Rp 20 triliun terserap penuh.