SAMARINDA — Bank Indonesia (BI) Provinsi Kalimantan Timur melaporkan tren penurunan tekanan inflasi pada April 2026 yang mencapai angka 0,11 persen (mtm). Capaian ini tercatat jauh lebih rendah dibandingkan realisasi bulan sebelumnya yang menyentuh 0,73 persen.
Kepala BI Kaltim, Jajang Hermawan, mengungkapkan bahwa stabilitas harga ini merupakan buah dari koordinasi intensif Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). Salah satu langkah konkretnya adalah penggencaran operasi pasar secara masif di berbagai titik strategis.
"Sampai dengan April 2026, TPID Kaltim melaksanakan lebih dari 200 kegiatan gerakan pangan murah atau operasi pasar, sebagai upaya menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat tetap terjangkau," ujar Jajang di Samarinda, Selasa.
Strategi 4K dan Penguatan Stok Pangan Daerah
Pengendalian ekonomi di Kalimantan Timur menerapkan strategi 4K yang meliputi keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, serta komunikasi efektif. TPID Kaltim bersama pemerintah kabupaten dan kota terus memantau stok komoditas utama di lapangan.
Langkah ini melibatkan sinergi dengan instansi teknis, BUMD pangan, hingga pelaku usaha swasta. Fokus utamanya adalah memastikan rantai pasok dari produsen ke konsumen tidak terhambat guna menghindari disparitas harga yang mencolok antarwilayah.
Selain itu, BI Kaltim memperkuat Program MANDAU Kaltim sebagai sistem peringatan dini terhadap gejolak pangan. Program ini memungkinkan pemerintah daerah melakukan percepatan tindak lanjut kebijakan jika ditemukan potensi gangguan logistik atau lonjakan harga yang tidak wajar.
Bagaimana Dampak Sektor Transportasi Terhadap Inflasi?
Meskipun inflasi secara umum melandai, sektor transportasi masih memberikan kontribusi tekanan pada April 2026. Hal ini dipicu oleh penyesuaian tarif angkutan udara serta biaya pemeliharaan kendaraan setelah masa mudik Lebaran berakhir.
"Secara umum, tekanan inflasi April 2026 terutama disumbangkan oleh kelompok transportasi, seiring penyesuaian harga pada biaya pemeliharaan dan tarif angkutan udara, sejalan dengan penyesuaian harga kelompok BBM (nonsubsidi dan avtur)," jelas Jajang.
Kenaikan harga bahan bakar rumah tangga, khususnya LPG 3 kg, juga turut memberi andil pada kelompok perumahan dan energi. Kondisi ini dinilai sebagai bagian dari normalisasi aktivitas ekonomi masyarakat yang masih tinggi setelah periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN).
Deflasi Harga Pangan Jadi Penyeimbang Ekonomi
Tekanan inflasi di Kalimantan Timur berhasil diredam oleh deflasi pada komponen bahan pangan bergejolak (volatile foods) yang mencatatkan angka minus 0,47 persen (mtm). Penurunan ini terjadi seiring membaiknya pasokan pangan di pasar lokal.
Jajang menekankan bahwa melandainya harga pangan mencerminkan kembalinya permintaan masyarakat ke level normal. Ketersediaan stok yang memadai di tingkat pedagang membuat gejolak harga yang sempat terjadi saat Ramadan kini mulai mereda secara bertahap.
Melalui pengawalan distribusi antarwilayah yang ketat, TPID optimistis stabilitas ekonomi Kaltim akan terus terjaga. Pengawasan difokuskan pada komoditas pangan segar yang memiliki kerentanan tinggi terhadap gangguan logistik di wilayah Kalimantan.