Samsung akan menghentikan dukungan aplikasi Samsung Messages mulai Juli mendatang dan mengalihkan basis penggunanya ke Google Messages secara bertahap. Langkah ini memicu reaksi dari komunitas pengguna yang menilai aplikasi besutan Google masih tertinggal dalam hal kustomisasi dan pengorganisasian pesan. Transisi ini menandai berakhirnya kompetisi aplikasi perpesanan di ekosistem Android.
Langkah Samsung untuk mempensiunkan aplikasi perpesanan bawaannya dalam hitungan pekan memicu gelombang protes dari para pengguna setia. Mulai Juli, raksasa teknologi asal Korea Selatan ini tidak lagi memberikan dukungan pada Samsung Messages dan mendorong migrasi besar-besaran ke Google Messages.
Meski Google Messages rutin meluncurkan pembaruan seperti folder sampah dan berbagi lokasi real-time, pengguna menilai aplikasi tersebut masih kekurangan fungsionalitas krusial yang selama ini ada di Samsung Messages. Berikut adalah lima fitur utama yang dinilai hilang dalam transisi ini.
Kustomisasi Tampilan yang Terbatas
Samsung Messages memberikan keleluasaan bagi pengguna untuk mengatur warna percakapan hingga memasang gambar khusus sebagai latar belakang chat. Fitur personalisasi ini menjadi poin yang paling sering disuarakan oleh pembaca Android Authority saat menanggapi rencana penutupan aplikasi tersebut.
Saat ini, Google Messages hanya mengizinkan pengeditan warna chat tanpa opsi latar belakang khusus. Meski kode dalam versi beta menunjukkan adanya pengembangan tema kustom, belum ada kepastian apakah fitur ini akan tersedia tepat waktu saat pengguna Samsung dipaksa beralih.
Manajemen Pesan Melalui Folder
Salah satu keunggulan Samsung Messages adalah kemampuan pengarsipan pesan ke dalam folder-folder khusus. Pengguna bisa mengelompokkan percakapan berdasarkan kategori pekerjaan, keluarga, hingga hobi dengan mudah agar tampilan kotak masuk tetap rapi.
Jamie McMahon, seorang pengguna, menyatakan bahwa Google seharusnya lebih fokus pada cara mengorganisasi pesan daripada sekadar mengubah tampilan visual. Google Messages saat ini hanya memiliki filter otomatis untuk spam dan folder sampah, namun belum mendukung pengelompokan manual ke dalam kategori.
Masalah Sinkronisasi Fitur Perangkat
Fitur "Alert when phone picked up" pada antarmuka One UI memungkinkan ponsel bergetar saat diangkat jika terdapat pesan yang belum terbaca. Namun, fungsionalitas ini ternyata tidak berjalan maksimal saat pengguna menggunakan Google Messages sebagai aplikasi utama.
Seorang pengguna dengan nama Chris4wwf menyoroti bahwa getaran peringatan tersebut hanya aktif untuk Samsung Messages. Kendala teknis ini sudah dilaporkan di forum resmi Samsung sejak bulan lalu, namun hingga kini belum ada solusi permanen yang dihadirkan oleh pihak Google maupun Samsung.
Absennya Fitur Penghapusan Otomatis
Samsung menyertakan opsi "Delete old messages" yang secara otomatis menghapus pesan teks lama setelah mencapai batas 1.000 pesan. Fitur ini sangat berguna bagi pengguna yang ingin menjaga ruang penyimpanan tetap bersih tanpa harus melakukan kurasi manual satu per satu.
Greg Sirmon mengungkapkan keberatannya karena Google Messages tidak memiliki opsi serupa. Tanpa fitur otomatisasi ini, pengguna terpaksa menghapus pesan secara manual, baik dalam bentuk teks individu maupun seluruh utas percakapan, yang dinilai tidak efisien secara waktu.
Dominasi Tunggal di Ruang Perpesanan
Keputusan Samsung ini juga memicu kekhawatiran mengenai hilangnya kompetisi sehat di ekosistem perpesanan Android. Dengan mundurnya Samsung Messages, Google Messages kini praktis menjadi satu-satunya pemain utama yang mengelola layanan RCS (Rich Communication Services).
Bagi pelaku bisnis digital dan investor, dominasi tunggal ini mengubah peta persaingan aplikasi di perangkat Android. Pengguna kini hanya bisa berharap Google segera mengadopsi fitur-fitur favorit dari Samsung Messages agar pengalaman transisi tidak menurunkan produktivitas harian mereka.