KALIMANTAN TIMUR — Science Corporation, perusahaan rintisan yang didirikan mantan presiden Neuralink Max Hodak, baru saja mendapatkan izin edar dari regulator alat kesehatan Eropa untuk PRIMA — sebuah chip implan retina yang dirancang memulihkan penglihatan penderita degenerasi makula terkait usia (age-related macular degeneration/AMD). Di Amerika Serikat, perangkat ini juga telah meraih status "breakthrough device" dari FDA, langkah awal menuju proses review yang dipercepat untuk dua jenis kebutaan langka.
Bagaimana Cara Kerja Chip PRIMA?
PRIMA adalah implan subretina kecil yang ditanamkan melalui prosedur rawat jalan selama satu jam. Setelah ditanam, pasien harus memakai kacamata yang dilengkapi kamera. Kamera ini merekam pemandangan di depan pasien, lalu mengirimkan data visual secara nirkabel ke chip di belakang mata. Chip kemudian merangsang sel-sel retina yang tersisa untuk mengirim sinyal ke otak.
Hasilnya, menurut klaim perusahaan, pasien bisa kembali membaca buku, mengisi teka-teki silang, hingga bermain Sudoku. “Salah satu pasien kami di Perancis baru saja menyelesaikan novel setebal 300 halaman dan mengirimkan bukunya kepada kami,” kata Max Hodak kepada TechCrunch. “Kami juga punya sketsa Opera House Sydney yang digambar oleh pasien lain.”
Harga dan Ketersediaan di Eropa
Setiap unit PRIMA diperkirakan dibanderol ratusan ribu dolar AS. Science Corporation saat ini tengah bernegosiasi dengan penyedia layanan kesehatan di Eropa terkait skema reimbursement. Perusahaan menargetkan prosedur perdana bisa dilakukan pada September 2025 di Jerman, lokasi uji klinis utama mereka.
Dengan kurs estimasi Rp 16.500 per dolar AS, harga PRIMA bisa menembus angka Rp 1,6 miliar hingga Rp 3,3 miliar per unit — jauh dari jangkauan pasien individu tanpa dukungan asuransi atau program pemerintah.
Mengapa Science Corporation Fokus ke Bisnis Penglihatan?
Hodak, yang juga mantan presiden Neuralink, mendirikan Science Corporation pada 2021 dengan ambisi mengembangkan BCI (brain-computer interface) generasi baru berbasis hibrida chip silikon dan sel hidup. Namun, ia sadar bahwa teknologi semacam itu butuh pendanaan jangka panjang yang stabil. “Yang dibutuhkan industri ini adalah perusahaan yang bisa menghasilkan pendapatan US$100 juta per tahun,” ujar Hodak. “Ada risiko seluruh bidang ini memasuki musim dingin pendanaan. Kami pikir penting membangun bisnis yang berkelanjutan sambil mengembangkan teknologi jangka panjang.”
Untuk mencapai target itu, Science Corporation mengakuisisi Pixium, perusahaan Perancis pengembang teknologi PRIMA, pada 2024. Akuisisi ini memberi mereka jalur cepat menuju komersialisasi tanpa harus memulai dari nol. Hodak menyebut bisnis penglihatan sebagai “mesin pendanaan” untuk proyek BCI yang lebih ambisius.
Apa Langkah Selanjutnya?
Science Corporation berencana terus meningkatkan kemampuan PRIMA dengan chip yang lebih baru dan memperkecil faktor bentuk kacamata — yang saat ini masih memerlukan baterai eksternal. Target jangka panjangnya adalah membuat kacamata PRIMA senyaman kacamata AR bikinan Meta, meski kebutuhan daya dan komputasi perangkat ini jauh lebih besar.
Di jalur riset yang lebih futuristik, perusahaan juga bekerja sama dengan Dr. Murat Günel, ketua Departemen Bedah Saraf Yale Medical School, untuk mengembangkan prosedur uji coba sensor otak bio-hibrida yang ditanam langsung. Namun, semua proyek itu bergantung pada satu hal: keberhasilan PRIMA di pasar. “Kami tidak bisa mengerjakan proyek bio-hibrida dalam jangka panjang kalau tidak punya bisnis penglihatan yang kuat,” tegas Hodak. “Itulah yang membiayai sisanya — sesuatu yang bisa dibuatkan spreadsheet oleh investor.”