Pencarian

Bupati Kutim Resmi Perkuat Forum Pembauran Kebangsaan, Targetkan Harmoni Sosial di Tengah 40 Suku

Selasa, 28 Juli 2026 • 19:20:47 WIB
Bupati Kutim Resmi Perkuat Forum Pembauran Kebangsaan, Targetkan Harmoni Sosial di Tengah 40 Suku
Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman memimpin rapat koordinasi penguatan Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) di Sangatta, Senin lalu.

SANGATTA — Rapat koordinasi yang digelar Badan Kesatuan Bangsa dan Politik bersama FPK se-Kabupaten Kutim di Sangatta, Senin lalu, menghasilkan komitmen baru untuk memperkuat bauran antar-suku. Bupati Ardiansyah Sulaiman menyebut kerukunan yang terjaga selama ini merupakan modal sosial yang tak ternilai bagi percepatan pembangunan.

Mengapa FPK Dianggap Strategis di Kutim?

Ketua FPK Kutim, Albert, menjelaskan forum ini bukan sekadar wadah seremonial. FPK menjadi ruang dialog lintas etnis yang mampu meredam potensi konflik di tengah kemajemukan masyarakat.

"Kami menghimpun berbagai unsur masyarakat untuk memperkuat pembauran sesuai pedoman nasional," kata Albert dalam keterangan yang diterima, Selasa.

Kabupaten Kutim sendiri dikenal sebagai miniatur Indonesia dengan puluhan suku, mulai dari Kutai, Dayak, Bugis, Jawa, hingga Toraja yang hidup berdampingan.

Apa Kata Bupati Soal Keberagaman?

Dalam sambutannya, Bupati Ardiansyah Sulaiman menekankan bahwa perbedaan suku, agama, dan budaya bukanlah penghalang. Justru sebaliknya, keberagaman itu menjadi kekuatan yang harus terus dirawat.

"Kita ingin Indonesia makin diperhitungkan di tingkat internasional, itu hanya dapat dicapai jika persatuan tetap dijaga bersama," ujarnya.

Ia menambahkan, kegiatan seperti sarasehan kebangsaan menjadi barometer keberhasilan pembangunan daerah. Program FPK dinilai sudah sejalan dengan visi Pemkab Kutim dalam memperkuat persatuan masyarakat.

Kondisi Kerukunan di Kutim Saat Ini

Bupati Ardiansyah mengaku bersyukur karena situasi keamanan dan kerukunan di Kutim hingga kini tetap kondusif. Hal ini terjadi meskipun daerah tersebut dihuni oleh masyarakat dari berbagai latar belakang adat dan budaya.

Menurutnya, semangat pembauran harus terus dibangun untuk menghadapi tantangan pembangunan ke depan. Ia mengingatkan bahwa Indonesia yang kokoh berdiri dalam bingkai NKRI adalah hasil dari perbedaan yang tetap dihormati.

FPK ke depan diharapkan bisa menjangkau lebih banyak komunitas, termasuk kampung-kampung terpencil di pedalaman Kutim yang memiliki keunikan adat masing-masing.

Bagikan
Sumber: kaltim.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks