Pencarian

Pemkab Kutim Hadapi Persaingan Ayam Beku dari Jawa hingga Biaya Produksi yang Menggerus Peternak Lokal

Kamis, 03 September 2026 • 20:42:32 WIB
Pemkab Kutim Hadapi Persaingan Ayam Beku dari Jawa hingga Biaya Produksi yang Menggerus Peternak Lokal
Wakil Bupati Kutim Mahyunadi meninjau hasil panen padi yang mencapai rata-rata 7 ton per hektare di Kutai Timur.

Kutai Timur menggantungkan pasokan pangan pada daerah luar, namun produksi padi lokal kini menunjukan hasil positif dengan rata-rata 7 ton per panen—menyamai produktivitas di Pulau Jawa dan Sulawesi. Wakil Bupati Kutim Mahyunadi menyebut penguatan sektor pertanian dan peternakan menjadi langkah strategis menghadapi potensi gangguan distribusi, termasuk krisis global.

SANGATTA — Ayam beku asal Pulau Jawa yang masuk ke Kalimantan Timur dijual sekitar Rp19.000 per kilogram, sementara biaya produksi ayam lokal rata-rata menembus Rp20.000 per kilogram. Selisih Rp1.000 ini menjadi gambaran nyata tantangan peternak mandiri di Kutai Timur (Kutim) yang bertahan di tengah persaingan harga yang tidak seimbang.

Kondisi tersebut terjadi karena bahan baku pakan di Jawa lebih murah—mulai dari jagung, limbah pengolahan udang sebagai sumber protein, hingga bekatul—sedangkan Kutim belum memiliki pabrik pakan mandiri yang mampu menekan biaya produksi.

Rantai Pasok Dipangkas lewat Koperasi Merah Putih

Pemerintah Kabupaten Kutim terus mendorong Koperasi Merah Putih menjadi pusat penampungan hasil produksi masyarakat, mulai dari ayam beku, padi, hingga produk hortikultura. Langkah ini sekaligus memperpendek rantai distribusi dan memperkuat pemasaran pangan lokal.

"Penguatan rantai pasok pangan lokal sangat penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah apabila terjadi gangguan distribusi dari Jawa maupun Sulawesi," ujar Wakil Bupati Kutim Mahyunadi di Sangatta, Kamis.

Pemda tidak bisa memaksa petani atau peternak berpindah komoditas jika keuntungannya tidak lebih baik. Masyarakat selalu mengukur dengan kelapa sawit yang dinilai lebih menguntungkan, sehingga pengembangan jagung atau komoditas lain harus menawarkan nilai ekonomi yang kompetitif.

Produksi Padi Kutim Kini Selevel Jawa dan Sulawesi

Di tengah tekanan biaya produksi, sektor tanaman pangan justru menunjukan tren menggembirakan. Produksi padi di Kutim mencapai rata-rata 7 ton per panen, angka yang setara dengan produktivitas di Pulau Jawa dan Sulawesi.

Mahyunadi menyebut kemajuan ini sebagai hasil positif yang patut dijaga. Pengembangan pangan tidak hanya berhenti pada padi—jagung juga masuk dalam rencana uji coba penanaman di lahan bekas tambang.

Kandang Rp500 Juta, Peternak Butuh 25 Siklus Panen

Investasi pembangunan kandang ayam mandiri mencapai Rp400 juta hingga Rp500 juta per unit. Dengan asumsi keuntungan bersih sekitar Rp2.000 per ekor, peternak membutuhkan hingga 25 siklus panen atau sekitar tiga tahun untuk mencapai titik impas.

Angka ini menjelaskan mengapa pengembangan peternakan di Kutim berjalan lambat: modal awal besar, risiko harga tinggi, dan kompetisi dengan produk impor antarprovinsi yang dijual lebih murah.

Syukuran panen perdana ayam pedaging Koperasi Perhiptani Agro Bengalon di Desa Tepian Baru, Rabu (2/9), menjadi penanda bahwa usaha ini tetap berjalan meski penuh hambatan.

Pabrik Pakan Mandiri Terkendala Bahan Baku Lokal

Pengembangan pabrik pakan mandiri di Kutim masih menghadapi kendala ketersediaan bahan baku. Pilihan masyarakat yang cenderung mengembangkan kelapa sawit karena dinilai lebih menguntungkan membuat pasokan jagung untuk pakan ternak belum mencukupi kebutuhan industri.

"Tidak mungkin kita memaksa masyarakat menanam sesuatu yang membuat mereka tidak lebih untung," tegas Mahyunadi.

Tanpa pabrik pakan lokal, peternak Kutim akan terus bergantung pada pakan yang harganya ditentukan oleh pasar di luar daerah—kondisi yang membuat biaya produksi sulit ditekan.

Pompa Surya untuk Lahan Minim Irigasi

Untuk mendukung pertanian di wilayah yang minim irigasi alami, Pemkab Kutim menyiapkan pemanfaatan sumur bor dengan pompa bertenaga surya. Teknologi ini dirancang menyediakan air secara otomatis saat matahari bersinar, sehingga petani tidak lagi bergantung pada jadwal pasokan air yang tidak menentu.

Kombinasi antara perluasan area tanam dengan teknologi irigasi bertenaga surya diharapkan menjaga produktivitas padi tetap tinggi di tengah keterbatasan infrastruktur pertanian yang ada.

Sejumlah langkah ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang Kutim membangun ketahanan pangan lokal—bukan sekadar mengejar swasembada, tetapi juga melindungi petani dan peternak dari gempuran produk daerah lain yang berbiaya produksi lebih rendah.

Follow faktasamarinda.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: kaltim.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks