KALIMANTAN TIMUR — Studio N telah mengadaptasi 48 judul webcomic menjadi serial dan film sejak berdiri pada 2018, dengan The Remarried Empress sebagai produksi paling ambisius. Serial bergenre romantasy itu tayang perdana di Disney+ dan Hulu pada 3 November, sehari lebih awal dari jadwal semula, setelah trailer-nya menembus 13 juta penayangan di YouTube dalam 48 jam pertama. CEO Studio N Mikyung Kwon menyebut proyek ini sebagai taruhan kreatif terbesar dalam kariernya.
Mikyung (Michelle) Kwon memimpin Studio N, sayap produksi Korea dari Webtoon Entertainment, dengan rekam jejak yang sudah terbukti. Sebelum menduduki kursi CEO, ia berkarier di CJ ENM dan Disney Korea. Kini ia mengarahkan perusahaan yang telah menggarap sederet judul populer, mulai dari Bloodhounds dan All of Us Are Dead untuk Netflix hingga My Daughter is a Zombie yang menjadi hit box office Korea tahun lalu.
Dari Webcomic ke Layar Kaca
Studio N berdiri pada 2018 dan sejak itu memproduksi 48 proyek yang bersumber dari IP webcomic. Model bisnisnya bertumpu pada basis penggemar yang sudah terbentuk sebelum adaptasi masuk tahap produksi. Kwon menilai pendekatan itu memberi Studio N keunggulan dibanding rumah produksi yang memulai dari naskah orisinal.
The Remarried Empress: Premis dan Pemain
Serial ini diangkat dari webtoon Naver berjudul sama karya HereLee dan ilustrator Sumpul, yang bersumber dari web novel Alphatart. Sejak debut pada 2019, webtoon tersebut mengumpulkan hampir 3 miliar penayangan dalam 10 bahasa. Kisahnya mengikuti Permaisuri Navier yang memerintah Kekaisaran Timur bersama suaminya, Kaisar Sovieshu. Ketika Sovieshu jatuh cinta pada seorang budak pelarian dan menuntut cerai, Navier mengajukan satu syarat: ia diberi izin menikah lagi dengan Pangeran Heinrey dari Kerajaan Barat.
Shin Min-a memerankan Navier, berpasangan dengan Lee Jong Suk sebagai Pangeran Heinrey dan Ju Jihool sebagai Kaisar Sovieshu. Tiga episode pertama serial ini lebih dulu diputar di Busan International Film Festival bulan lalu.
Mengapa Setting Eropa Jadi Pertaruhan
Kwon dan timnya memutuskan mempertahankan dunia asli webcomic, lengkap dengan nama-nama tokoh dan latar istana bergaya Eropa. Pilihan itu menyimpang dari konvensi drama sageuk Korea yang biasanya memakai setting sejarah lokal dan busana hanbok.
"Kami ingin mengadaptasi karya aslinya karena IP ini sangat populer secara global," kata Kwon kepada Deadline. "Penting untuk mempertahankan nama-nama asli karena kami ingin menjaga nuansa yang muncul dari webcomic itu."
Proses pengembangan dimulai pada 2020, tetapi mencari tim kreatif yang tepat memakan waktu. Beberapa sutradara menolak proyek ini karena menilai materinya butuh rasa Korea yang lebih kental. Cho Suwon, yang sebelumnya menggarap Still 17 dan Pinocchio, akhirnya bergabung sebagai sutradara. Latar belakang seni rupa Cho dinilai cocok dengan kebutuhan visual serial.
Biaya Produksi dan Tantangan Teknis
The Remarried Empress disebut sebagai produksi termahal dan paling ambisius Studio N sampai sekarang. Ratusan kostum dibuat, sementara CGI dipakai untuk menghadirkan karakter yang berwujud pangeran sekaligus burung. Kwon menyebut elemen terakhir sebagai tantangan terbesar tim produksi.
Tim lokasi memetakan 16 kastel di seluruh Eropa sebelum memilih Schleissheim Palace di luar Munich, Jerman, sebagai lokasi utama. Skor musiknya direkam dengan orkestra, pendekatan yang tidak lazim untuk serial televisi Korea. Menurut Kwon, suara simfonik dibutuhkan untuk menopang nuansa magis-realistis cerita.
"Proyek ini akan mendefinisikan hidup saya," ujar Kwon. "Saya merasakan banyak kecemasan dan harapan sekaligus saat ini."
Jadwal Tayang dan Respons Awal
Empat episode pertama The Remarried Empress dirilis di Disney+ dan Hulu pada 3 November, dimajukan sehari dari rencana semula karena tingginya animo penggemar. Trailer serial ini melampaui 13 juta penayangan di YouTube dalam 48 jam pertama sejak diluncurkan pada September.
Bagi pasar Indonesia, serial ini menambah deretan konten Korea di Disney+ Hotstar yang bisa diakses pelanggan lokal. Basis penggemar webtoon di Indonesia, yang menjadi salah satu pasar terbesar Naver Webtoon, berpotensi menjadi penonton awal serial ini.
Langkah Studio N mempertahankan estetika Eropa di tengah dominasi sageuk menunjukkan bahwa adaptasi webcomic tidak lagi terikat pakem drama Korea. Jika berhasil, formula ini bisa jadi cetak biru bagi rumah produksi lain yang menggarap IP digital lintas negara.