SENDAWAR — Kepastian medali diraih Wihelmina dan Fauziah setelah keduanya menembus babak semifinal. Di laga tersebut, pasangan Kutai Barat mengakui keunggulan tim Balikpapan dengan skor 2-0 (6-2, 6-2) pada Jumat (6/11/2026).
Kekalahan di semifinal tidak menghapus catatan sejarah. Pada keikutsertaan perdana, cabang padel Kutai Barat langsung membawa pulang perunggu ke kontingen daerah.
Bagi Andy Tanaya, Perunggu Ini Bukti Kerja Sama Tim yang Baru Terbentuk
Ketua Pengurus Besar Padel Indonesia (PBPI) Kutai Barat, Andy Tanaya, menyebut capaian tersebut sebagai prestasi yang membanggakan. Menurut dia, organisasi yang dipimpinnya memang masih sangat muda.
"Tentu ini prestasi yang membanggakan karena cabor Padel Kutai Barat masih sangat baru. Kami berhasil membuktikan bahwa semangat, saling percaya, dan kerja keras bisa membuahkan hasil terbaik," kata Andy, Sabtu (7/11/2026).
Andy menilai hasil di Samarinda menjadi modal kuat untuk perkembangan padel di Kutai Barat ke depan. Ia berharap PBPI setempat bisa bersinergi dengan pemerintah daerah dan KONI untuk membangun fasilitas lapangan yang representatif.
Lapangan Representatif Jadi Syarat Jika Kubar Ingin Jadi Tuan Rumah Porprov 2030
Fasilitas lapangan disebut krusial sebagai wadah pembinaan atlet lokal. Selain itu, lapangan yang memadai menjadi bekal persiapan jika Kutai Barat dipercaya menjadi tuan rumah Porprov 2030.
Ketua KONI Kutai Barat, Alsiyus, memberikan apresiasi atas pencapaian tersebut. Ia menilai hasil itu luar biasa mengingat cabang padel baru saja dibentuk.
"Anak-anak padel baru saja terbentuk, tetapi di ajang ini bisa langsung dapat medali. Saya yakin ke depan padel Kutai Barat akan lebih maju dan mampu melahirkan talenta baru," ungkap Alsiyus.
Keberhasilan ini diharapkan memacu minat masyarakat terhadap olahraga padel. Pembinaan atlet muda menjadi pekerjaan rumah berikutnya bagi pengurus cabang dan KONI setempat.