Terletak di Jalan H.A.M. Rifaddin, gedung ini diresmikan bersamaan dengan gedung Cathlab jantung. Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Sri Puji Astuti, menyebut pemisahan area perawatan ibu dan anak dari pasien dewasa sebagai langkah krusial. Langkah ini menekan risiko infeksi silang dan memberi ruang gerak lebih aman bagi pasien rentan.
Sri Puji masih mengingat masa-masa sulit saat bertugas di rumah sakit beberapa tahun silam. Keterbatasan alat membuat bayi prematur dengan berat lahir sangat rendah hanya bisa dipasrahkan.
"Dulu, dengan kondisi bayi lahir prematur berbobot 700 gram, kita di I.A. Moeis hanya bisa melihat dan pasrah menunggu dijemput maut karena alat tidak memadai. Sekarang? Alhamdulillah, bayi dengan berat 700 gram bisa dilayani secara optimal dan selamat. Mereka hidup," kenangnya penuh haru.
Tim dokter spesialis anak melaporkan, rumah sakit kini mampu merawat bayi prematur ekstrem dengan usia kehamilan di bawah 27 minggu dan berat badan lahir sangat rendah (BBLSR). Ini membuka harapan baru bagi keluarga dengan risiko kelahiran prematur di Samarinda dan sekitarnya.
Pekerjaan rumah besar lain ikut teratasi: penanganan thalassemia. Sri Puji mencatat, 74 pasien thalassemia rutin berobat di RSUD I.A. Moeis. Sebelumnya mereka kerap kesulitan mendapatkan kantong darah.
"Alhamdulillah, sekarang kantong darahnya juga sudah langsung tersedia di RSUD I.A. Moeis tanpa harus mencari keluar. Ini lompatan kualitas pelayanan yang nyata untuk warga," ujar Sri Puji di sela-sela peresmian.
Zonasi terpisah antara area perawatan ibu dan anak dengan pasien dewasa bukan sekadar tata ruang. Menurut Sri Puji, ini instrumen pengendalian infeksi yang selama ini menjadi kelemahan banyak rumah sakit daerah.
"Kehadiran gedung baru ini memberikan ruang gerak yang lebih aman bagi pasien rentan," tegasnya. Fasilitas setara rumah sakit besar di Pulau Jawa itu diharapkan menekan angka rujukan pasien ke luar daerah, terutama ke Balikpapan atau Jakarta.
Meski sarana fisik dan alat medis telah diperbarui, Sri Puji mengingatkan investasi pada manusia tetap kunci. Ia mendesak manajemen rumah sakit dan Pemkot Samarinda memperkuat kompetensi dokter dan tenaga kesehatan secara berkala.
"Harapan saya, inovasi pelayanan tidak berhenti sampai di seremonial peresmian ini saja. Fasilitas dan layanan harus terus ditingkatkan, kapasitas medis diperluas, sehingga ke depan semakin banyak jenis penyakit berat yang bisa tuntas ditangani di rumah sakit ini," pungkasnya.
Dunia kedokteran bergerak dinamis, penyakit yang menyerang ibu dan anak semakin kompleks. Tanpa penguatan SDM yang berkelanjutan, gedung sehebat apa pun tidak akan memaksimalkan potensi penyelamatan jiwa.