BALIKPAPAN — Kesbangpol Kota Balikpapan membentuk GEMPITA (Gerakan Pemuda Pelopor Toleransi dan Anti Ekstremisme) sebagai upaya memperkuat ketahanan sosial di tengah keberagaman suku, budaya, dan keyakinan. GEMPITA resmi dibentuk Jumat (4/9/2026) di Ruang Rapat Badan Kesbangpol Kota Balikpapan, dan dilanjutkan dengan bimbingan teknis bagi para agen pada Sabtu (5/9/2026) di Ruang Rapat 1 Balai Kota Balikpapan.
Program ini menempatkan pemuda bukan sekadar penerima informasi, melainkan pelopor yang diharapkan mampu menjaga kebersamaan sekaligus mencegah berkembangnya paham ekstremisme di lingkungan masing-masing.
Kepala Kesbangpol Kota Balikpapan Elyzabeth E.R.L. Toruan melalui Sekretaris Dian Wesasa menyampaikan bahwa pemuda memiliki posisi strategis dalam upaya menjaga toleransi. Mereka hidup di tengah lingkungan sekolah, kampus, organisasi kepemudaan, komunitas, hingga media sosial.
"Karena itu, pemuda memiliki peluang besar untuk menyebarkan pesan toleransi sekaligus menjadi bagian awal dalam menangkal narasi yang berpotensi memecah persatuan," kata Elyzabeth dalam sambutan yang dibacakan Dian Wesasa.
Melalui GEMPITA, para pemuda diharapkan mampu mengenali potensi intoleransi, menyikapi informasi secara kritis, dan menolak narasi ekstremisme. Mereka juga didorong untuk mengajak kelompok sebaya menyelesaikan perbedaan melalui komunikasi dan dialog.
Di tengah keberagaman pilihan dan pandangan, ruang dialog menjadi penting agar perbedaan tidak berkembang menjadi prasangka maupun konflik. GEMPITA hadir sebagai wadah untuk membangun kesadaran bahwa perbedaan tidak harus dihapus agar masyarakat dapat hidup berdampingan.
Kehadiran program ini dinilai sebagai investasi sosial untuk menjaga masa depan Balikpapan. Kota yang nyaman tidak hanya dibangun melalui jalan, gedung, dan berbagai fasilitas, tetapi juga melalui kepercayaan, persaudaraan, dan kemampuan warganya untuk saling menghargai.
Ketika pemuda memilih menjadi penjaga toleransi, mereka sedang menjaga rumah bersama bernama Balikpapan. Cinta kepada kota tidak harus berisik, cukup dengan tidak membiarkan perbedaan menjadi alasan untuk saling melukai.