Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur membidik pemanfaatan potensi 20.026 megawatt energi terbarukan untuk mendiversifikasi ekonomi daerah yang masih didominasi sektor ekstraktif. Berdasarkan Rencana Umum Energi Daerah, potensi itu didominasi energi surya 13.479 MW, disusul energi air 2.118 MW, bioenergi 1.086 MW, dan energi angin sekitar 212 MW. Pemprov menetapkan target jangka pendek menaikkan bauran energi baru terbarukan dari 12,14 persen menjadi 19,06 persen pada 2027.
SAMARINDA — Wakil Gubernur Kaltim Seno Aji menyampaikan angka potensi energi terbarukan tersebut dalam diskusi di Gedung Olah Bebaya, Kompleks Kantor Gubernur Kaltim. Menurutnya, Kaltim punya modal besar dari batu bara, minyak, dan gas bumi, sekaligus potensi energi bersih yang melimpah.
Angka 20.026 MW yang tercatat dalam RUED merupakan total potensi sumber daya alam, bukan kapasitas pembangkit yang sudah terpasang. Artinya, sebagian besar potensi itu masih menunggu realisasi di lapangan.
Realisasi bauran energi baru terbarukan di Kaltim saat ini baru mencapai 12,14 persen. Sistem ketenagalistrikan daerah masih didominasi pembangkit fosil.
Pemprov Kaltim menetapkan target jangka pendek mendongkrak porsi bauran EBT regional menjadi 19,06 persen pada 2027. Untuk jangka panjang, Kaltim berkomitmen mengejar bauran energi bersih hingga 79 persen pada 2045.
Langkah transisi ini dinilai krusial mengingat posisi Kaltim sebagai beranda utama Ibu Kota Nusantara yang mengusung konsep kota hutan pintar berdaya bersih. Pemanfaatan EBT skala besar diproyeksikan menjadi penopang utama kebutuhan energi hijau bagi IKN ke depan.
Sebagai wujud implementasi di lapangan, pemerintah daerah telah mengoperasikan jaringan Pembangkit Listrik Tenaga Surya di 65 desa pra-PLN. Program itu memberdayakan masyarakat wilayah pedalaman sekaligus menekan emisi karbon.
Peluang pemanfaatan lahan bekas tambang batu bara untuk proyek PLTS terapung juga tengah digodok. Kaltim telah memiliki fondasi industri pengolahan seperti Kilang Balikpapan, LNG Badak, dan Pupuk Kaltim di Bontang.
Pada 2025, sektor pertambangan tercatat menyumbang 34,18 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto Kaltim. Produksi batu bara Kaltim selama periode 2023–2025 mencapai sekitar 1,07 miliar ton.
Seno menilai batu bara, minyak, dan gas merupakan modal awal yang harus dikembangkan melalui industri bernilai tambah, penguatan rantai pasok lokal, peningkatan keterampilan tenaga kerja, serta investasi.
"Tantangan kita adalah mengubah kekayaan sumber daya menjadi kekuatan ekonomi yang bertahan lama," kata Seno Aji.
Menurut dia, keberhasilan pengelolaan energi daerah tidak cukup diukur dari besarnya sumber daya alam yang dieksploitasi. Kekayaan tersebut harus mampu memberikan nilai tambah, memperkuat pendapatan daerah, membuka lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Dalam aspek fiskal, Seno menekankan dua jalur utama untuk meningkatkan manfaat ekonomi sumber daya alam bagi daerah. Pertama, penerimaan melalui pemerintah pusat, termasuk Dana Bagi Hasil.
Kedua, penerimaan yang dapat diperkuat melalui kewenangan daerah, antara lain pajak daerah, dividen Badan Usaha Milik Daerah, serta pengelolaan participating interest 10 persen sesuai peraturan yang berlaku.
Seno juga menyoroti pentingnya meningkatkan kontribusi kekayaan daerah yang dipisahkan terhadap Pendapatan Asli Daerah. Menurutnya, realisasi penerimaan perlu dibandingkan menggunakan periode yang setara agar evaluasi kinerja fiskal dilakukan secara tepat.
Ia menambahkan penguatan PAD bukan sekadar menambah pungutan. Pemerintah daerah perlu menginventarisasi potensi retribusi, mengoptimalkan layanan Badan Layanan Umum Daerah, serta mengembangkan sumber penerimaan lain yang memiliki dasar hukum.
"Setiap potensi penerimaan baru harus dikaji berdasarkan kewenangan, mekanisme pemungutan, dan manfaatnya bagi daerah," jelas Seno.
"Ke depan, kita perlu memastikan semakin banyak pemasok daerah, tenaga kerja, dan pelaku usaha lokal yang mampu mengambil bagian dalam rantai nilai tersebut, sehingga aktivitas industri memberi manfaat yang lebih luas bagi perekonomian Kaltim," katanya.