Review Film Kuasa Gelap: Perjanjian Darah, Eksorsisme Katolik yang Lebih Serius

Penulis: Ginanjar Raharjo  •  Minggu, 11 Oktober 2026 | 19:46:01 WIB
Film Kuasa Gelap: Perjanjian Darah resmi tayang sebagai sekuel Kuasa Gelap (2024).

KALIMANTAN TIMUR — Film Kuasa Gelap: Perjanjian Darah resmi tayang sebagai sekuel dari Kuasa Gelap (2024) yang meraih 1,4 juta penonton. Kali ini Rizal Mantovani duduk di kursi sutradara, menggantikan posisi yang sebelumnya dipegang tim kreatif berbeda, dengan Lukman Sardi sebagai Romo Rendra dan Jerome Kurnia kembali sebagai Romo Thomas. Sekuel ini memindahkan fokus dari masalah pribadi Romo Thomas ke sosok Romo Rendra.

Andri Cahyadi dan Robert Ronny kembali menulis naskah sekuel ini dengan pendekatan yang berbeda dari film pertama. Keduanya tampak berusaha menyeimbangkan narasi eksorsisme dan konflik pribadi salah satu romo, kali ini Romo Rendra yang diperankan Lukman Sardi.

Pada edisi pertama, cerita lebih banyak berkutat pada masalah pribadi Romo Thomas. Sekuel ini membalik komposisi itu dengan menjadikan praktik eksorsisme sebagai sajian utama.

Sinopsis Singkat Kuasa Gelap: Perjanjian Darah

Film ini melanjutkan kisah dua romo Katolik yang berhadapan dengan kekuatan gelap. Salah satu pasien eksorsisme bernama Daniel, diperankan Venly Arauna, menjadi pusat konflik yang melibatkan sosok demit bernama Rephaim.

Rephaim digambarkan sebagai entitas di luar Seven Princes of Hell, sebuah gagasan yang menurut catatan review justru menarik karena membuka peluang eksorsisme Katolik bertemu ilmu hitam lokal. Lydia Kandou ikut bergabung sebagai Suster Aloysia, memperluas jajaran pemain dari film sebelumnya.

Pendekatan Eksorsisme yang Lebih Ketat

Rizal Mantovani disebut mengawal penyampaian materi eksorsisme dan ajaran Gereja Katolik dengan cukup ketat. Pendekatan ini berbeda dari film Hollywood yang menurut review lebih banyak mengandalkan dramatisasi dibanding konteks faktualnya.

Konsekuensinya, penonton awam yang mencari hiburan murni bisa merasa film ini lebih mirip drama Katolik dibanding horor. Namun bagi penonton yang mengharapkan substansi gerejawi lebih kental, hasilnya justru memuaskan.

Andri Cahyadi dan Robert Ronny dinilai berhasil memainkan bobot materi agama yang diawasi ketat dengan tuntutan horor dan beban komersial. Kombinasi itu disebut seperti permainan Russian roulette yang berhasil mereka lewati dengan selamat.

Kritik untuk Efek Visual dan Tata Produksi

Sejumlah catatan teknis muncul dari sekuel ini. Adegan poltergeist disebut meningkat dibanding prekuelnya, tetapi eksekusinya dianggap berlebihan, terutama saat Jerome Kurnia berkali-kali dilempar hingga menabrak furnitur.

Kritik lain menyorot logika tata ruang. Pasien eksorsisme separah Daniel masih ditempatkan di kamar penuh perabotan, sementara barang-barang kecil di lemari samping kasur tetap tertata rapi meski lemari besar sudah rubuh.

Rizal Mantovani juga dinilai terlalu gamblang menunjukkan suasana, misalnya menampilkan gambar suhu pada termometer ruangan untuk menggambarkan hawa gerah. Padahal efek itu bisa dicapai lewat riasan keringat atau gestur para pemain.

Soal efek visual, sosok Rephaim disebut gagal tampil meyakinkan karena terlihat terlalu komputerisasi. Adegan tenggelam di awal film dan filter warna pada adegan Romo Rendra bersama Suster Aloysia di dermaga juga masuk daftar catatan.

Pelajaran dari Film Pertama

Kuasa Gelap (2024) mampu menembus 1,4 juta penonton. Capaian itu membuat standar untuk sekuel ini otomatis lebih tinggi, terutama pada aspek produksi yang di film pertama masih bisa dimaklumi.

Robert Ronny yang juga bertindak sebagai produser eksekutif dinilai perlu lebih peduli pada investasi dan standar kualitas aspek teknis. Pemakluman atas hasil produksi yang terkesan menekan bujet disebut tidak lagi bisa diberikan untuk versi sekuel.

Catatan lain menyorot pemilihan aktor muda untuk sosok Rendra dan Halim kecil. Postur Rendra kecil dianggap tidak cocok dengan versi dewasanya, begitu pula perbandingan postur Rendra dan Halim di kedua fase usia.

Secara keseluruhan, Kuasa Gelap: Perjanjian Darah menunjukkan langkah maju dalam penanganan materi eksorsisme Katolik yang lebih serius. Namun kualitas teknis, terutama efek visual dan tata produksi, masih menjadi pekerjaan rumah yang belum tuntas di sekuel ini.

Reporter: Ginanjar Raharjo
Sumber: cnnindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top