SANGATTA — Kepala Dinas Kesehatan Kutai Timur dr Yuwana Sri Kurniawati mengungkapkan kualitas udara di wilayahnya bergerak fluktuatif. Perubahan itu dipicu cuaca tidak menentu dan bertambahnya titik kebakaran hutan di sejumlah kecamatan.
Pemantauan dilakukan setiap hari lewat 21 puskesmas yang tersebar di Kutim. Petugas memantau dua parameter utama, yakni partikulat PM2,5 dan PM10, untuk membaca tingkat pencemaran udara.
Hasil pemantauan itu jadi dasar pengambilan langkah perlindungan. Bila kualitas udara melewati ambang batas, Dinkes Kutim akan menyesuaikan respons sesuai tingkat risikonya.
Ia menegaskan prioritas diberikan kepada kelompok paling rawan terpapar.
"Artinya, langkah perlindungan ini tetap harus kita berlakukan, khususnya bagi kelompok rentan, mulai bayi dan balita, anak di bawah 12 tahun, ibu hamil, lansia, hingga penderita gangguan saluran pernapasan dan kardiovaskular," jelas Yuwana.
Fenomena El Niño disebut Yuwana ikut mendorong frekuensi kebakaran hutan di Kutim. Cuaca kering membuat api cepat meluas dan asap mengepul ke permukiman.
"Kondisi cuaca kita, kualitas udaranya fluktuatif, berubah-ubah. Apalagi kalau banyak kebakaran hutan. Saat ini kondisi iklim kita sedang tidak baik, ada El Niño, sehingga kejadian kebakaran hutan cukup banyak," ujarnya.
Karena itu, pemantauan udara tidak hanya menyasar kualitas lingkungan. Dinkes Kutim juga mendeteksi potensi penyakit yang menyerang saluran pernapasan dan sistem kardiovaskular.
Yuwana mengingatkan peran keluarga saat sekolah menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Anak-anak diminta tetap berada di rumah, bukan justru bermain di luar.
Menurutnya, kebijakan belajar dari rumah harus diikuti kesadaran orang tua membatasi aktivitas anak di luar ruangan. Paparan polusi udara berisiko mengganggu tumbuh kembang anak.
Sejumlah imbauan lain juga disampaikan kepada warga. Masyarakat diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan bila tidak mendesak, serta menerapkan pola hidup sehat agar daya tahan tubuh tetap terjaga.
"Dalam kondisi seperti ini, saya mengimbau masyarakat memperbanyak konsumsi air putih, sayur, dan buah-buahan supaya daya tahan tubuh tetap kuat. Yang jelas, hindari udara luar jika tidak ada keperluan mendesak," imbaunya.
Warga perlu mewaspadai gejala batuk, sesak napas, iritasi mata, atau keluhan lain yang muncul setelah terpapar asap. Bila mengalami gangguan kesehatan, sebaiknya segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.
Langkah paling penting tetap mengurangi paparan asap dan memakai perlindungan yang sesuai saat harus beraktivitas di luar rumah. Dinkes Kutim menyebut pemantauan kualitas udara akan terus berjalan selama cuaca ekstrem dan karhutla masih berlangsung.