SAMARINDA — Tren okupansi hotel di Samarinda menunjukkan perbaikan pada triwulan IV 2026. Swiss-Belhotel Borneo Samarinda mencatat tingkat hunian di kisaran 60-70 persen, angka yang lebih baik ketimbang triwulan III yang sempat mengalami penurunan.
Meski begitu, kenaikan tersebut belum cukup mengembalikan kinerja ke level tahun lalu. General Manager Swiss-Belhotel Borneo Samarinda Nur Andy mengakui pihaknya masih menghadapi tekanan dari berbagai sisi.
"Kalau okupansi hotel kami sendiri memang masih di bawah tahun lalu. Tapi membaik dibanding triwulan III yang sempat turun," kata Andy, Rabu (28/10).
Andy menyebut penyesuaian anggaran pemerintah sebagai salah satu faktor yang paling memengaruhi bisnis perhotelan di Samarinda. Ketergantungan terhadap belanja instansi masih cukup besar, baik melalui kegiatan yang digelar di hotel maupun aktivitas perusahaan yang berkaitan dengan proyek-proyek negara.
Pengurangan anggaran membuat sejumlah kegiatan yang sebelumnya berpotensi mendatangkan tamu hotel ikut terdampak. Efeknya menjalar ke aktivitas transaksi perusahaan mitra proyek pemerintah yang tidak bergerak sekuat yang diharapkan.
Karhutla turut membayangi pergerakan bisnis tahun ini. Daya beli pasar yang melemah melengkapi deretan tantangan yang harus dihadapi pengelola hotel.
Menurut pengamatan Andy, capaian tahun ini masih berada di bawah 2025. Pada periode itu, aktivitas pembangunan Ibu Kota Nusantara masih menopang pergerakan ekonomi Samarinda dan sekitarnya.
Kondisi tersebut membuat kinerja hotel sepanjang 2026 terasa lebih menantang. Penopang yang sebelumnya datang dari geliat proyek IKN kini tidak lagi sekuat dulu.
Persaingan antarhotel di Samarinda juga semakin ketat. Perang harga menjadi salah satu tantangan yang perlu diantisipasi untuk menjaga tingkat hunian tetap stabil.
"Saya sadar jadi masih banyak yang perlu dibenahi," ujar Andy.
Swiss-Belhotel Borneo Samarinda melakukan pembenahan dan penyesuaian harga untuk menjaga daya saing. Hotel tersebut tetap menyasar sejumlah segmen pasar, mulai dari tamu pemerintahan, korporasi, hingga keluarga yang memilih berlibur di dalam kota.