BERAU — Peringatan Hari Lahir Pancasila tahun 2026 menjadi panggung bagi Bupati Berau untuk menekankan pentingnya persatuan dan pengamalan nilai-nilai kebangsaan. Dalam sambutannya di upacara tersebut, orang nomor satu di lingkup Pemkab Berau itu secara spesifik mengajak masyarakat untuk tidak hanya menghafal Pancasila, tetapi juga mengimplementasikannya dalam aksi nyata, terutama semangat gotong royong.
Mengapa Gotong Royong Kembali Disorot di Kalimantan Timur?
Ajakan Bupati Berau ini tidak lepas dari konteks sosial di Kalimantan Timur yang tengah bertransformasi. Sebagai daerah penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN), Berau menghadapi arus urbanisasi dan perubahan demografi yang signifikan. Menurut Bupati, gotong royong adalah perekat sosial yang ampuh untuk mencegah gesekan antarwarga pendatang dan penduduk asli.
"Nilai gotong royong harus kita jaga agar pembangunan di Berau berjalan harmonis," ujar Bupati dalam pidatonya. Ia menegaskan bahwa persatuan adalah modal utama untuk mengamankan stabilitas daerah.
Apa Implikasi Ajaran Ini bagi Warga Berau?
Pemerintah daerah tidak hanya berhenti pada seremonial. Pemkab Berau berencana mengintegrasikan nilai-nilai Pancasila ke dalam program-program pemberdayaan masyarakat yang sudah berjalan. Beberapa program seperti Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) tingkat kampung dan kelurahan akan dioptimalkan sebagai wadah gotong royong.
Dengan pendekatan ini, warga diharapkan tidak hanya menjadi objek pembangunan, tetapi juga subjek yang aktif berpartisipasi. Langkah ini juga menjadi strategi untuk mengantisipasi potensi konflik sosial yang kerap muncul akibat kesenjangan ekonomi di daerah yang sedang tumbuh pesat.
Bagaimana Respons Masyarakat terhadap Seruan Ini?
Sejumlah tokoh masyarakat menyambut positif ajakan Bupati. Mereka menilai bahwa di era digital dan individualistis, semangat gotong royong mulai luntur. Melalui peringatan Hari Lahir Pancasila, masyarakat diingatkan kembali pada akar budaya lokal yang selama ini menjadi ciri khas warga Berau.
Pemkab Berau pun berkomitmen untuk terus menyosialisasikan nilai-nilai Pancasila melalui pendidikan formal dan non-formal. Langkah ini diyakini dapat membentengi generasi muda dari paham radikalisme dan intoleransi yang bisa mengancam keutuhan bangsa.