SAMARINDA — Pemerintah Kota Samarinda mengakui gejolak nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mulai menggerus anggaran proyek pembangunan di ibu kota Kalimantan Timur tersebut. Kondisi ini mendorong Pemkot untuk menyiapkan langkah efisiensi di berbagai sektor belanja.
Wali Kota Samarinda, Andi Harun, menyatakan bahwa komponen material impor seperti besi menjadi yang paling terpengaruh oleh depresiasi rupiah. Ia menyebut situasi ini menuntut pemerintah untuk lebih selektif dalam membelanjakan anggaran.
Komponen Impor Jadi Sektor Paling Tertekan
"Besi terutama atau komponen yang berasal dari impor," kata Andi Harun kepada kaltimkece.id, Ahad, 7 Juni 2026.
Menurutnya, dampak pelemahan rupiah tidak hanya dirasakan oleh pemerintah daerah. Daya beli masyarakat juga ikut tertekan seiring dengan naiknya harga barang-barang yang bergantung pada bahan baku impor.
Efisiensi Tidak Hanya untuk Pemkot, Masyarakat Juga Diminta Berhemat
Pemkot Samarinda telah menyiapkan mitigasi berupa efisiensi belanja. Namun, Andi Harun menekankan bahwa upaya ini tidak bisa berjalan sendiri tanpa partisipasi warga.
"Karena dampak depresiasi itu tidak hanya di sisi pemerintah tapi di sisi daya beli masyarakat," ujarnya.
Ia mengimbau agar masyarakat dan pemerintah sama-sama selektif dalam membelanjakan uang sesuai skala prioritas. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga daya tahan ekonomi di tengah situasi yang dinamis.
Selektif Belanja, Hindari Barang Impor yang Tidak Prioritas
Andi Harun menjelaskan, selektivitas perlu diterapkan secara ketat di sektor belanja barang dengan komponen impor yang tinggi. Hal ini, kata dia, menjadi kunci agar Pemkot dan masyarakat Samarinda mampu bertahan dalam kondisi apapun.
"Karena situasinya sekarang mengharuskan kita berhemat, mengharuskan kita menghindari belanja yang tidak terlalu prioritas," serunya.
Ia menambahkan, kondisi perekonomian yang sangat dinamis saat ini menuntut kekompakan semua pihak. "Itu sebabnya kita harus kompak dan bersama-sama menghadapi situasi yang sangat dinamis, terutama kondisi perekonomian kita," pungkasnya.