SAMARINDA — Ruas jalan yang selama ini menjadi tulang punggung distribusi barang antara Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah sepanjang lebih dari 200 kilometer akan diubah total. Alih-alih tambal sulam aspal konvensional, pemerintah memilih metode perkerasan kaku atau rigid pavement yang dikenal lebih tahan terhadap beban truk pengangkut batu bara dan logistik.
Mengapa Rigid Beton Dipilih untuk Jalur Ini?
Keputusan menggunakan beton cor bukan tanpa alasan. Sepanjang musim hujan, ruas jalan di perbatasan Kutai Barat dan Murung Raya kerap ambles dan berlumpur, memaksa truk mengurangi muatan hingga 30 persen. Akibatnya, biaya logistik per ton per kilometer di Kaltim tercatat sebagai salah satu yang tertinggi di Pulau Kalimantan.
“Dengan rigid beton, umur pakai jalan bisa mencapai 20 tahun tanpa perawatan besar. Ini solusi permanen, bukan proyek tahunan,” ujar Kepala Dinas PUPR Kaltim dalam rapat koordinasi pekan lalu.
Dampak Langsung ke Harga Sembako dan BBM di Daerah 3T
Perbaikan jalur ini menyentuh langsung daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) di perbatasan. Selama ini, harga semen di Long Bagun, Kabupaten Mahakam Ulu, bisa dua kali lipat dari harga di Samarinda karena ongkos angkut yang mahal dan jalan rusak. Begitu pula dengan harga minyak goreng dan gas elpiji 3 kg yang kerap langka saat jalan longsor.
Pemangkasan biaya logistik diprediksi menurunkan harga eceran di tingkat pedagang sekitar 15 hingga 20 persen. Bagi warga di kampung-kampung sepanjang aliran Sungai Mahakam, ini berarti selisih harga yang signifikan setiap kali belanja bulanan.
Bagaimana Progres Pengerjaan di Lapangan?
Hingga pekan ketiga Maret 2026, progres pengecoran sudah mencapai 65 persen. Titik-titik kritis di Kecamatan Damai dan sekitarnya menjadi prioritas karena kontur tanahnya labil. Kontraktor pelaksana mengerahkan alat berat dan menerapkan sistem long segment agar sambungan beton tidak mudah retak.
Pemerintah juga menyiagakan tim pemeliharaan rutin untuk memastikan drainase di sisi jalan berfungsi optimal, sebab genangan air menjadi penyebab utama kerusakan jalan di Kalimantan.
Proyek ini dibiayai melalui skema APBD Perubahan dan dana alokasi khusus (DAK) infrastruktur. Target akhir proyek adalah November 2026, bertepatan dengan puncak musim kemarau yang memudahkan proses pengeringan beton.
FAQ: Apa yang Perlu Diketahui Warga?
Apakah jalan akan ditutup total selama pengerjaan?
Tidak. Sistem buka-tutup satu lajur tetap diterapkan agar distribusi barang tidak terhenti total. Pengendara diimbau mematuhi rambu sementara dan jadwal buka jalur yang diumumkan petugas setiap pagi.
Kapan warga bisa merasakan hasil perbaikan ini?
Penurunan biaya logistik mulai terasa bertahap setelah ruas sepanjang 50 kilometer pertama selesai dan diresmikan, diperkirakan pada Agustus 2026. Namun dampak maksimal baru terlihat setelah seluruh ruas tersambung sempurna.