Pencarian

Puncak Trikora Papua: Ekspedisi 10 Hari yang Dituangkan dalam Buku 'Mengintip Sepotong Surga'

Selasa, 01 September 2026 • 23:04:01 WIB
Puncak Trikora Papua: Ekspedisi 10 Hari yang Dituangkan dalam Buku 'Mengintip Sepotong Surga'
Juvensius memaparkan pengalaman ekspedisi 10 hari ke Puncak Trikora dalam peluncuran buku 'Mengintip Sepotong Surga' di Jakarta, Sabtu (29/8/2026).

KALIMANTAN TIMUR — Puncak Trikora bukan sekadar gunung tinggi biasa. Terletak di Papua Pegunungan dan masuk kawasan Taman Nasional Lorentz, gunung ini menyimpan kombinasi langka: medan ekstrem, sejarah eksplorasi kolonial, dan jejak gletser tropis yang makin menipis. Buku Mengintip Sepotong Surga karya Juvensius alias Foxs Explore mencoba merangkum pengalaman nyata menaklukkan puncak ini, lengkap dengan foto-foto medan dan suasana perjalanan.

Daya Tarik Puncak Trikora: Antara Sejarah dan Keindahan Alam

Gunung yang dulunya dikenal sebagai Puncak Wilhelmina ini punya nilai historis panjang. Nama Wilhelmina diambil dari ratu Belanda ketika penjelajah Dr. H.A. Lorentz memimpin ekspedisi pertamanya pada 1909. Setelah Papua masuk Indonesia, namanya diubah menjadi Trikora, merujuk pada Tri Komando Rakyat yang dicanangkan Presiden Soekarno pada 19 Desember 1961.

Dari sisi alam, Puncak Trikora berada di dalam Taman Nasional Lorentz, kawasan konservasi yang diakui UNESCO sebagai Situs Warisan Alam Dunia. Bentang alamnya beragam—dari pesisir hingga pegunungan bersalju. Keberadaan gletser di wilayah tropis menjadi daya tarik ilmiah sekaligus visual yang sulit ditemukan di gunung lain Indonesia.

Ekspedisi 10 Hari: Persiapan Fisik dan Mental yang Matang

Juvensius bukan pendaki senior. Pria kelahiran Pemangkat, Kalimantan Barat, ini baru benar-benar mengenal dunia pendakian setelah mengunjungi Gunung Bromo. Pendakian pertamanya baru dilakukan pada 2018 ke Gunung Semeru. Sejak itu, ia telah menjelajahi lebih dari 20 gunung di dalam dan luar negeri.

Untuk Puncak Trikora, ia menyiapkan fisik selama enam bulan sebelum keberangkatan. "Saya tidak ingin merepotkan orang-orang di sana ketika pendakian," ujarnya dalam peluncuran buku di Alenia Papua Coffee & Kitchen, Jakarta, Sabtu (29/8/2026).

Perjalanan yang ia tuliskan dalam buku dimulai dari Kota Wamena. Dari sana, rombongan harus menghadapi medan berat, cuaca yang berubah ekstrem, serta tantangan logistik khas pendakian Papua. Buku ini mengajak pembaca mengikuti langkah demi langkah—dari kaki gunung, perjuangan mencapai puncak, hingga perjalanan turun dengan selamat. Pemimpin ekspedisi, Ruslan Budiarto, turut menjadi narasumber dalam diskusi peluncuran buku tersebut.

Mengapa Buku Ini Lebih dari Sekadar Catatan Perjalanan

Christian Natalie, Manajer Program Kehutanan Yayasan KEHATI, menilai buku ini punya peran edukasi lingkungan. Ia mengibaratkan hutan Papua sebagai supermarket yang menyediakan bahan pangan dan obat-obatan. Namun, ia mengingatkan bahwa kekayaan ini terancam. "Hutan kita tidak sedang baik-baik saja," katanya dalam diskusi yang dimoderatori Harun Mahbub Billah tersebut.

Ia mengapresiasi buku karya Juvensius sebagai media literasi yang ikut mendorong aksi keberlanjutan. "Buku ini bukan sekadar catatan perjalanan, ini aksi nyata memberi edukasi untuk aksi-aksi keberlanjutan," ujarnya.

Persiapan Sebelum Mendaki Puncak Trikora

Bagi traveler yang tertarik mengikuti jejak Juvensius, perlu diingat bahwa Puncak Trikora bukan gunung untuk pendaki pemula. Ketinggian di atas 4.700 mdpl menuntut aklimatisasi serius, sementara medan dan cuaca ekstrem membutuhkan pengalaman teknis memadai. Persiapan fisik minimal enam bulan seperti yang dilakukan Juvensius adalah standar yang masuk akal.

Informasi terkini mengenai izin masuk kawasan, tarif, dan regulasi pendakian dapat dikonfirmasi langsung melalui kantor Balai Besar Taman Nasional Lorentz atau dinas pariwisata setempat. Jangan mengandalkan informasi usang, karena status kawasan konservasi sering kali disertai aturan yang diperbarui.

Buku Mengintip Sepotong Surga menjadi pintu masuk yang baik untuk memahami apa yang menanti di Puncak Trikora. Sebelum memutuskan mendaki, luangkan waktu membaca pengalaman mereka yang sudah lebih dulu menapaki jalur ini. Dengan persiapan matang dan penghormatan pada kawasan konservasi, ekspedisi ke puncak bersejarah ini bisa menjadi salah satu perjalanan paling berkesan dalam hidup.

Follow faktasamarinda.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: beritakota.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks