10 Provinsi Cakupan Imunisasi Balita Tertinggi 2026, DIY Juara

Penulis: Fauzan Arifin  •  Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:47:31 WIB
Data BPS 2026 mencatat 93% balita Indonesia pernah menerima imunisasi.

KALIMANTAN TIMUR — Sebanyak 93% balita Indonesia tercatat pernah mendapat imunisasi pada 2026, sementara 7% lainnya belum pernah sama sekali. Data BPS ini menempatkan DI Yogyakarta di puncak dengan cakupan 99,42%, disusul sembilan provinsi lain yang semuanya menembus angka 96%. Yuk, cek apakah daerah ibu masuk daftar.

Angka cakupan imunisasi yang tinggi bukan sekadar statistik. Di daerah dengan capaian di atas 96%, hampir semua balita sudah punya riwayat vaksinasi lengkap, yang berarti perlindungan terhadap penyakit seperti campak, polio, dan hepatitis B jauh lebih merata.

BPS merilis data ini dalam publikasi Statistik Kesejahteraan Rakyat 2026. Dari 38 provinsi, sepuluh wilayah mencatat capaian tertinggi, dan menariknya, bukan hanya provinsi di Pulau Jawa yang masuk jajaran atas.

1. DI Yogyakarta — 99,42%

Hampir seluruh balita di DIY tercatat pernah menerima imunisasi. Capaian ini mencerminkan akses layanan kesehatan dasar yang kuat, didukung banyak puskesmas dan posyandu aktif di tiap kecamatan.

2. Jawa Tengah — 98,46%

Jawa Tengah konsisten menjaga cakupan imunisasi di level atas. Jaringan posyandu yang rapat hingga ke desa menjadi kunci tingginya partisipasi orang tua membawa anak imunisasi.

3. Nusa Tenggara Timur — 98,45%

Selisih NTT dengan Jawa Tengah hanya 0,01 poin persentase. Capaian ini menunjukkan provinsi dengan tantangan geografis berat pun bisa mengejar ketertinggalan lewat program jemput bola dan posyandu keliling.

4. Bali — 98,36%

Bali mencatat 98,36% balita pernah diimunisasi. Kesadaran masyarakat akan pentingnya vaksinasi sejak dini tergolong tinggi di provinsi ini.

5. Sulawesi Utara — 97,97%

Sulawesi Utara nyaris menyentuh 98%. Dukungan tenaga kesehatan dan kader posyandu berperan besar menjaga angka ini stabil dari tahun ke tahun.

6. Nusa Tenggara Barat — 97,57%

NTB terus memperbaiki layanan imunisasi dasar. Capaian ini menjadi sinyal positif pemerataan akses kesehatan di wilayah timur Indonesia.

7. DKI Jakarta — 97,21%

Sebagai wilayah perkotaan padat, Jakarta menghadapi tantangan mobilitas penduduk. Meski begitu, cakupan imunisasi balita tetap tinggi berkat layanan kesehatan yang mudah dijangkau.

8. Gorontalo — 97,07%

Gorontalo masuk sepuluh besar dengan 97,07%. Program imunisasi berbasis komunitas dinilai efektif menjangkau balita di daerah terpencil.

9. Kalimantan Utara — 96,89%

Kalimantan Utara mencatat 96,89%. Wilayah perbatasan pun tidak tertinggal dalam upaya perlindungan anak lewat imunisasi.

10. Papua Selatan — 96,84%

Papua Selatan menutup daftar dengan 96,84%. Capaian ini penting karena wilayah Papua sering dihadapkan pada keterbatasan infrastruktur kesehatan.

Mengapa Cakupan Imunisasi Antarprovinsi Berbeda?

Perbedaan akses fasilitas kesehatan, ketersediaan tenaga medis, dan partisipasi masyarakat menjadi tiga faktor utama. Provinsi dengan posyandu aktif dan kader kesehatan yang rajin menyambangi rumah warga cenderung punya cakupan lebih tinggi.

Faktor lain adalah kesadaran orang tua. Semakin paham ibu dan ayah soal manfaat vaksin, semakin kecil kemungkinan anak terlewat jadwal imunisasi.

Jangan Lengah Meski Cakupan Tinggi

Angka 93% nasional memang menggembirakan, tapi masih ada 7% balita yang belum pernah diimunisasi sama sekali. Mereke tersebar di berbagai daerah, terutama wilayah dengan akses layanan kesehatan terbatas.

Kalau ibu ragu soal jadwal atau jenis vaksin anak, konsultasikan ke bidan, puskesmas, atau dokter anak terdekat. Tidak perlu menunggu sampai ada wabah baru bergerak.

Cek juga buku KIA anak secara berkala. Pastikan setiap dosis imunisasi dasar tercatat lengkap, dari hepatitis B saat lahir hingga campak rubella di usia 9 bulan.

Reporter: Fauzan Arifin
Sumber: data.goodstats.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top