BONTANG — Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkartan) Bontang Amiluddin menyebut bantuan warga datang tanpa diminta. Ada yang menyumbang makanan ringan, ada pula yang menanggung makan berat untuk petugas yang bergiliran turun dari lokasi.
Menurut Amiluddin, pasokan itu menjaga tenaga personel di tengah pemadaman yang nyaris tidak berhenti. Petugas yang selesai bergiliran bisa langsung menyantap makanan sebelum kembali ke titik api.
"Alhamdulillah banyak orang dermawan. Ada saja yang bantu beli. Kami sedang sibuk padamkan api. Jadi saat bergantian. Petugas yang istirahat bisa langsung isi tenaga," ucap Amiluddin.
Pemadaman di Jalan Soekarno-Hatta (eks Flores) berlangsung alot. Angin bertiup kencang sehingga api berpotensi menyala dan menyebar kembali, terutama di area yang dipenuhi tumpukan daun kering.
Kondisi itu memaksa petugas bolak-balik menjinakkan api di titik yang sama. Luasan karhutla sempat mencapai 30 hektare sebelum penanganan berjalan.
"Sejumlah titik memang telah memasuki tahap pendinginan. Namun, petugas tetap harus memantau kondisi di lapangan untuk memastikan tidak ada bara yang kembali memicu kebakaran," kata Amiluddin.
Beban kerja hampir 24 jam membuat sejumlah petugas dan relawan tumbang. Sekretaris Disdamkartan Bontang Sarkani menyebut mereka dievakuasi karena mengalami sesak napas dan langsung diberi bantuan oksigen.
"Hanya beberapa saja tumbang akibat sesak nafas. Kami secara fisik memang perlu beristirahat, karena hampir 24 jam bekerja," ucap Sarkani.
Evakuasi dilakukan di sela proses pemadaman yang masih berjalan. Personel yang pulih dikembalikan ke lokasi secara bergiliran agar penanganan tidak terputus.
Disdamkartan Bontang melanjutkan pemantauan di sejumlah titik yang sudah masuk tahap pendinginan. Petugas memastikan tidak ada bara yang tersisa dan berpotensi memicu kebakaran baru.
Warga di sekitar Jalan Soekarno-Hatta diminta melaporkan cepat jika melihat asap atau api muncul kembali. Lahan kering dan angin kencang masih menjadi kombinasi yang mempercepat penyebaran api.
Aksi gotong royong warga menjadi penopang logistik petugas selama operasi berlangsung. Dapur umum lapangan dan pasokan makanan bergilir membantu personel bertahan di lokasi yang panas dan berasap.