BONTANG — Direktur Manajemen Risiko Pupuk Kaltim, Maslani, menerima penghargaan tersebut di Manila pada Rabu (7/10/2026). Ajang ASEAN Energy Awards memberi pengakuan terhadap proyek dan inisiatif unggulan di bidang energi tingkat Asia Tenggara, dan tahun ini menjadi bagian dari rangkaian ASEAN Energy Business Forum 2026 (AEBF-26).
Kapasitas terpasang PLTS Atap Pupuk Kaltim terdiri atas Fase 1 sebesar 1,2 MWp dan Fase 2 sebesar 2,6 MWp. Sistem ini mencatat availability factor 98–98,6 persen, angka yang menurut perusahaan menunjukkan energi surya bisa menjadi bagian sistem energi pendukung industri dengan tingkat ketersediaan tinggi.
Maslani menyebut inovasi PLTS Atap digagas sebagai bagian komitmen perusahaan mendorong transisi energi dan dekarbonisasi industri. Proyek ini merepresentasikan upaya Pupuk Kaltim mengintegrasikan energi baru terbarukan ke dalam operasional industri secara bertahap, terukur, dan berkelanjutan.
Transisi energi bukan sekadar upaya menekan emisi. Menurut Maslani, langkah itu juga strategi meningkatkan efisiensi, memperkuat daya saing, dan mendorong pertumbuhan bisnis berkelanjutan.
"Melalui pemanfaatan PLTS Atap, kami berupaya membuktikan bahwa pengembangan energi bersih dapat berjalan beriringan dengan keandalan operasional industri," ujar Maslani.
Pupuk Kaltim mengintegrasikan PLTS Atap secara bertahap di area nonpabrik dan pabrik yang terhubung dengan jaringan listrik lokal berbasis Gas Turbine Generator (GTG). Pengembangan ini menjadi bagian peta jalan keberlanjutan perusahaan untuk menerapkan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) dalam jangka panjang.
Perusahaan juga memperluas pemanfaatan energi surya lewat ekosistem EBT terintegrasi. Energi dari PLTS dimanfaatkan untuk mendukung operasional kendaraan listrik, selain memenuhi kebutuhan internal fasilitas perusahaan.
"Bagi kami, pengembangan PLTS Atap tidak berhenti pada pemasangan panel surya. Kami membangun ekosistem energi yang saling terhubung, mulai dari pembangkit, pemanfaatan energi untuk operasional, hingga dukungan terhadap kendaraan listrik," terang Maslani.
Implementasi PLTS Atap selama periode 2022–2025 menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 10.702,38 ton CO? ekuivalen. Pengurangan emisi diperkuat melalui pengalihan bus konvensional menjadi bus listrik yang memanfaatkan energi dari PLTS, dengan penghematan BBM 3.945,46 liter dan penekanan emisi hingga 0,45 ton CO?.
Dampaknya tidak berhenti di lingkungan. Pupuk Kaltim melibatkan tenaga kerja lokal dalam proses konstruksi, menggelar sharing knowledge soal teknologi surya, memberi pelatihan Operation and Maintenance bagi mahasiswa, hingga menerapkan PLTS di kawasan pesisir Bontang untuk kebutuhan permukiman nelayan.
"Dengan demikian, energi tidak hanya memberikan manfaat bagi operasional industri, tetapi juga membuka peluang peningkatan kompetensi, pemberdayaan masyarakat, dan pengembangan ekonomi lokal," ungkap Maslani.
Dari sisi teknis dan ekonomi, Pupuk Kaltim mengembangkan kolaborasi dengan anak perusahaan Pupuk Indonesia Grup yang memiliki Izin Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (IUPTL). Kerja sama itu lewat skema Power Purchase Agreement (PPA) untuk memperluas pemanfaatan energi terbarukan.
Inisiatif tersebut menghasilkan penghematan energi sekitar 20 persen atau setara 5.815.575 kWh. Estimasi penghematan biaya operasional tahunan mencapai USD 29.800, didukung pemanfaatan energi surya untuk kebutuhan operasional dan stasiun pengisian daya kendaraan listrik.
Pengembangan energi terbarukan ini merupakan bagian komitmen Pupuk Kaltim mendukung target Second Nationally Determined Contribution sektor industri menuju Net Zero Emission 2050. Strategi keberlanjutan perusahaan berfokus pada tiga pilar: efisiensi energi, pengurangan dan penangkapan emisi, serta pemanfaatan EBT.